Workshop Psychological First Aid for Abused Teenager

 

Kondisi kehidupan orang dewasa masa kini penuh dengan ketegangan dan persaingan yang membuat pola kehidupan semakin rentan dengan ketertekanan. Dampaknya, seseorang menjadi tidak terampil mengendalikan emosinya, sehingga tidak bisa dipungkiri saat ini banyak anak yang mengalami tindakan kekerasan dari orang-orang dewasa di sekitarnya maupun rekan sebaya, yang mengakibatkan anak-anak rentan stres. Sementara anak yang menjadi korban tidak berani menyuarakan penderitaannya, sehingga kondisi ini akan mempengaruhi perkembangan psikologis yang bisa berdampak negatif dalam kehidupannya bahkan juga mempengaruhi prestasi belajar mereka.

Workshop ini diadakan untuk menyiapkan para konselor remaja agar dapat menolong anak-anak yang menjadi korban kekerasan / bullying dari lingkungannya.

Club SEDIA: The Unspoken “HELP!!”

Pada hari Jumat, 28 Oktober 2016 yang lalu, PKPP mengadakan seminar bagi para anggota club Siap Empati Dalam sItuasi Apapun (Club SEDIA) dengan judul The Unspoken “HELP!!”. Seminar yang disampaikan oleh dr. Harsono Wiradinata, Sp.KJ (Psikiater) ini dihadiri oleh 39 orang, tidak hanya yang tergabung dalam club SEDIA, namun juga dosen dan karyawan lainnya yang memiliki kepedulian pada mahasiswa.

 

dr. Harsono Wiradinata, SpKJ (Psikiater)
dr. Harsono Wiradinata, Sp.KJ (Psikiater)

 

The Unspoken “HELP!!” ini berbicara mengenai gejala dan pertolongan pertama bagi penderita skizofrenia, yaitu suatu gangguan psikologis yang membuat penderitanya sulit membedakan antara kenyataan dan pikiran sendiri, sering berhalusinasi, dan tidak relevan dengan dunia real. Hal ini tentu akan mengganggu kegiatan sehari-hari penderitanya. Namun mereka enggan untuk menyampaikan kondisi mereka, karena malu atau ketakutan dianggap ‘gila’.

Dalam seminar ini dr. Harsono menyampaikan banyak hal mengenai penyebab, gejala, serta cara menolong penderita skizofrenia ini. Peserta yang antusias mengikuti seminar ini juga melontarkan pertanyaan-pertanyaan terkait pengalaman mereka mendampingi mahasiswa dengan berbagai problematikanya.

 

 

img_2967 img_2966 img_2968 img_2971 img_2972

 

Mengambil Keputusan Secara Efektif

Kita diberi Tuhan kehendak bebas untuk bisa memilih jalan yang hendak kita lalui. Setiap manusia tak luput dari masalah hidup yang menghadapkannya pada banyak pilihan. Oleh karena itu, kita harus jeli dalam mengambil keputusan.

Berikut ini adalah delapan prinsip mengambil keputusan secara efektif:

 

1. DOA

Doa adalah pembicaraan dua arah. Jadi, bicaralah kepada Tuhan dan mohon petunjuk-Nya. Kemudian dengarkan jawaban-Nya.

 

2. BUATLAH KEPUTUSAN TENTANG APA YANG HENDAK ANDA LAKUKAN

Tanyakan kepada diri sendiri, mengapa saya harus mengambil keputusan ini? Masalah apa yang harus diselesaikan? Apa saja pilihan yang tersedia? Hindari keputusan yang ragu-ragu dan bias. Sediakanlah tiga atau lebih pilihan dalam setiap pengambilan keputusan. Berpikirlah kreatif dan perbanyak pilihan-pilihan Anda.

 

3. KUMPULKAN INFORMASI

Kumpulkan informasi sebanyak mungkin, jangan menunggu terlalu lama untuk memutuskan. Hindari terperangkap dalam analisis yang berkepanjangan. Biasanya, keputusan yang tepat dapat diambil setelah tersedia 100% informasi. Namun, dianggap cukup bila informasi yang terkumpul sudah mencapai 50-75%. Jadi, 50% informasi sekali pun dapat menunjang Anda mengambil keputusan yang baik.

 

4. BUATLAH DAFTAR SEBAB DAN AKIBAT

Daftar ini akan membantu Anda berpikir jernih. Daftar sebab-akibat yang mengandalkan logika harus Anda buat sebelum memutuskan sesuatu.

 

5. DENGARKANLAH INSTING DAN INTUISI ANDA

Tapi, bukan berarti Anda harus benar-benar memercayai perasaan tanpa memedulikan logika karena perasaan kurang bagus diandalkan sebagai penganalisis yang jernih. Sebaliknya, pengambilan keputusan yang tepat didapatkan dari mendengarkan intuisi Anda–seperti jika Anda menggunakan logika Anda. Jadi, gabungkanlah logika dan intuisi dalam setiap pengambilan keputusan.

 

6. PERTIMBANGKAN SKENARIO TERBURUK

Kejadian terburuk apa yang mungkin terjadi bila Anda mengambil keputusan dengan cara yang telah Anda pilih? Memikirkan kemungkinan terburuk akan membantu Anda mengidentifikasi kekhawatiran dan ketidakpastian. Biasanya, kedua hal ini dapat mencegah Anda yang terlalu cepat dalam mengambil keputusan. Dengan mengetahui kekhawatiran dan halangan yang ada, Anda terbantu untuk melihat persoalan dengan lebih jernih.

“Jika Anda benar-benar mau melakukan sesuatu, Anda akan menemukan jalan; jika tidak, Anda akan menemukan suatu alasan.” — Norman Vincent Peale

7. CARILAH PENASIHAT YANG DAPAT DIPERCAYA

Pandangan dan pendapat orang lain–apalagi dari ahlinya–seringkali diperlukan karena dapat membantu menjernihkan permasalahan yang sedang dihadapi. Memang Anda tidak harus menuruti nasihat orang lain, tapi setidaknya Anda menjadi lebih bijak dengan mendengar dan mempertimbangkannya.

 

8. AMBILLAH KEPUTUSAN

Jangan berdalih. Jangan menunda-nunda –putuskan. Lanjutkan dengan melakukan keputusan Anda dan percaya pada bimbingan Tuhan sebagai jawaban atas doa Anda.

“Kalau keputusan sudah diambil, berhentilah khawatir dan mulailah bekerja.” –William James

 

(Febe Chen dalam bukunya “Menjadi Pribadi Unggul”. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Biarkan Kesendirian Membantu Mengatasi Kesepian Anda

Ada kalanya kita merasakan keramahan, simpati, dan mendapatkan hiburan dari orang lain. Namun ada kalanya pula kita harus sendirian tanpa teman. Dalam zaman modern yang semakin ramai seperti sekarang ini, orang menjadi semakin takut bila harus sendirian, sehingga tidak mengherankan bila banyak yang melarikan diri dalam keramaian atau mengikuti suatu perkumpulan hanya sekedar untuk menghindari kesendirian.

Memang kesendirian dapat membuat kita dicengkam oleh rasa kesepian. Namun apabila kita menerima kesendirian sebagai fakta yang tak dapat dihindari, kemudia berusaha memanfaatkannya, maka kesendirian dapat menjadi saat yang produktif dan kreatif, serta banyak maknanya bagi kehidupan kita.

 

Saat untuk Lebih Mengenal Diri Sendiri

Kalau kita sendirian, kita mempunyai kesempatan untuk berhadapan dengan diri kita sendiri dalam keheningan, sehingga saat semacam itu dapat merupakan saat untuk lebih mengenal diri sendiri, untuk melihat kekuatan dan kelemahan kita, menemukan hal-hal baru dalam diri kita ataupun menemukan kemampuan-kemampuan yang selama ini terpendam, dan juga merupakan kesempatan untuk membuat rencana pengembangan diri. Dengan demikian kita juga punya kesempatan untuk belajar mencintai diri sendiri dan merasa bahagia dengan diri kita sendiri.

 

Saat untuk Memperoleh Kekuatan Batin

Memang apabila orang dapat mengubah kesendirian menjadi suatu keheningan yang konstruktif, maka kesendirian akan dapat membantu kita memperoleh kekuatan batin kembali. Kita akan menemukan hal-hal baru dalam diri kita, dan kehendak Tuhan terhadap diri kita menjadi semakin jelas.

 

Saat untuk Berkreasi

Seni budaya dan ilmu pengetahuan tidak tercipta di tengah keramaian, tetapi di dalam kesunyian. Hanya dalam kesendirian orang dapat mengembangkan ide-ide yang muncul dalam pikirannya. Kalau kita terpaksa harus tinggal sendirian dan merasa bahwa tidak ada ide-ide yang dapat dikembangkan, hobi pun dapat membantu kita memanfaatkan kesendirian secara kreatif.

 

Jadi, kesendirian dapat menjadi kesepian atau tidak, itu tergantung dari diri kita sendiri, kita bisa memanfaatkan kesendirian itu atau tidak. Maka salah satu cara mengatasi rasa kesepian adalah belajar memanfaatkan kesendirian, sehingga kita dapat tinggal sendirian tanpa merasa kesepian.

 

(“Mengatasi Rasa Kesepian” tulisan Florence Wedge)

Tiga Gejala Depresi

Belakangan ini, kita melihat dan mendengar berita mengejutkan sekaligus mengerikan mengenai seorang ibu yang tega membunuh bahkan memutilasi anaknya yang masih balita. Hal tersebut benar-benar di luar akal sehat. Bagaimana mungkin seorang ibu tega melakukan hal tersebut? Diduga ibu tersebut mengalami depresi berat.

Salah satu musuh terbesar dalam hidup adalah depresi. Ada saat-saat ketika depresi menguasai kita dan sepenuhnya menyingkirkan kemampuan untuk menikmati hidup. Ada juga saat-saat ketika depresi mengikat akal sehat kita begitu kuat sampai-sampai kita merasa hidup ini tidak tertanggungkan. Pada saat-saat seperti ini, beberapa orang telah berpikir untuk mati saja.

Depresi tidak memilih korbannya. Depresi dapat menghantam siapa saja, kapan saja. Lalu apa saja gejala seseorang mengalami depresi?

 

1. KEADAAN TANPA DAYA

Kebanyakan kasus depresi berhubungan dengan beberapa bentuk stres atau tekanan fisik dan emosi. Seseorang yang merasa tidak berdaya, dicontohkan dengan perasaan “cukuplah itu.” Kita harus waspada. Kita tidak dapat mengambil lebih dari apa yang mampu kita kunyah, khususnya jika kita memiliki kepribadian yang melankolis. Keletihan fisik, emosi, bahkan spiritual dapat membuat suasana hati kita enggan untuk mengerjakan tugas yang paling kita inginkan. Ada juga alasan biofisika yang menyebabkan depresi. Beberapa dikarenakan ketidakseimbangan kimia, kurang gizi, atau bahkan kurang tidur.

 

2. MENTALITAS YANG MEMATIKAN

Dalam keadaan tertekan dan stres luar biasa, kematian sepertinya menjadi jalan keluar terbaik. Itulah dusta iblis! Kematian tidak mengakhiri segalanya. Kematian bukanlah jalan keluar. Kehidupan adalah anugrah suci dari Allah dan tidak seorang pun berhak mengambilnya. Orang-orang yang sedang depresi sering berniat bunuh diri karena tidak ada seorang pun yang merasa terusik atau mampu merespons isyarat permintaan tolong mereka. Apa yang dicari oleh orang depresi adalah orang yang berbelas kasih, bersedia mendengar, dan membiarkan diri untuk merasakan apa yang sedang mereka rasakan.

3. PANDANGAN YANG BERUBAH

Orang yang depresi cenderung memiliki pandangan yang berubah. Ketika seseorang sedang jatuh, pusat perhatiannya beralih dari yang riil ke rasa, dari Allah ke diri sendiri. Dengan kata lain, sikap mengasihani diri sendiri menang! Apa yang kita lihat tergantung pada siapa kita. Jika ragu, kita akan melihat bahwa tak ada harapan. Jika percaya, kita akan melihat potensi besar.

(Sumber: “Managing Your Emotions” tulisan Benny Ho. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

11 Karakter Pria yang Tepat

Siapa yang Anda anggap sebagai pria yang tepat dan kapan Anda menganggapnya demikian? Seperti apakah dia? Sifat-sifat apa yang dimilikinya?

Anda perlu mengembangkan beberapa prinsip atau karakteristik yang Anda butuhkan dalam diri seorang pria. Anda perlu memikirkan hal-hal yang Anda inginkan dan butuhkan, lalu carilah pria yang memenuhi sebagian besar kriteria Anda tadi, jangan cuma satu atau dua kriteria.

Carilah karakter yang sejati. Carilah seseorang yang memberi perhatian dan kasih sayang yang Anda butuhkan dan layak Anda dapatkan.

 

  1. Bertanggung jawab   Penting sekali untuk mencari pria yang tepat dan bertanggung jawab. Jika ia tidak bertanggung jawab dengan waktu, uang, talenta, dan pekerjaannya, ia pun akan bersikap sama atau bahkan lebih buruk terhadap pernikahan. Jika ia menyalahkan orang lain perihal segala sesuatu yang tidak beres dengan dirinya, maka Anda menjadi orang berikutnya yang akan disalahkan oleh dia. Pria yang bertanggung jawab tidak akan menimpakan kesalahan kepada orang lain. Ia akan mengaku bila bersalah, bersedia bertanggung jawab atas kesalahannya itu, mau meminta maaf, dan mau belajar dari kesalahan. Pria yang bertanggung jawab memberi Anda kemantapan, rasa aman, dan hal-hal yang dapat diprediksi.
  2. Menunda Kesenangan   Pria yang mampu menunda mencari kesenangan akan mampu menahan diri untuk tidak melakukan hubungan seks sebelum menikah. Ia dapat menabung dan bukannya memboroskan semua uangnya. Kualitas seperti ini sangat penting untuk ditemukan dalam diri pasangan hidup. Doronglah dia untuk mempraktekkan dan mengembangkan sifat itu sebelum menikah dengan Anda. Amati apakah ia memiliki kekuatan untuk menunda sesuatu yang tampaknya baik untuk saat ini dengan sesuatu yang tampaknya lebih baik untuk masa mendatang.
  3. Berkomunikasi   Anda berhak untuk mendapatkan pria yang mau berkomunikasi dengan Anda. Ia harus dapat mengungkapkan tentang dirinya dan dapat berkomunikasi dengan baik terhadap Anda secara pribadi. Jika sejak awal sudah tidak ada komunikasi, kemungkinan besar hal itu juga tidak akan pernah ada setelah Anda menikah. Pria yang tepat harus tahu cara berkomunikasi.
  4. Memiliki teman-teman yang mendukungnya.   Pastikan pasangan Anda yang tepat itu mempunyai teman yang dapat membantunya dan teman yang dapat ia bantu. Bertemulah dengan teman-temannya dan ikutlah terlibat dalam melakukan banyak hal bersama mereka. Jika Anda menikmati kebersamaan dengan mereka, mereka akan dapat mendukung pasangan Anda dan Anda. Yang menjadi tanda bahaya adalah bila pria yang Anda pilih tidak mempunyai teman dan tidak berkeinginan untuk bergaul dengan orang lain, atau pria yang teman-temannya bersifat buruk.
  5. Memiliki Tujuan   Pasangan yang tepat harus memiliki tujuan untuk kehidupan ini, yang jauh melampaui keinginan seperti sekedar mempunyai uang banyak atau mempersiapkan pensiun. Tanyakan apa tujuan hidupnya, mengapa ia hidup melebihi dari yang perlu dilakukannya di dunia ini, apa yang ia harapkan dapat diberikannya kepada dunia dan bagaimana cara ia melakukan itu.
  6. Baik hati dan memiliki hubungan yang baik dengan wanita   Pria yang baik dan tepat harus bersikap baik kepada Anda dan menghargai semua wanita. Jika ia berani menghina ibunya atau para wanita lainnya, maka pada akhirnya nanti ia akan beralih menghina Anda. Carilah pria yang menghargai Anda dan semua wanita.
  7. Berdoa   Pria yang tepat juga harus merupakan sosok yang suka berdoa. Ia memiliki hubungan dengan Allah dan menginginkan pimpinan-Nya. Anda perlu tahu apakah pria pilihan Anda itu seorang pria yang bertuhan dan selalu mencari Allah.
  8. Gemar membaca Kitab Suci   Pria yang tepat perlu mengikuti pendalaman Alkitab, tempat ia belajar lebih banyak tentang Firman Allah. Doronglah ia untuk membaca bersama Anda. Jika ia merasa tidak nyaman, maka itu bisa berarti bahwa keintiman rohani tidak akan menjadi bagian dari kehidupan pernikahan Anda kelak.
  9. Mengasihi anak-anak   Hati seorang pria yang tepat dapat dilihat dari caranya menanggapi anak-anak. Bicarakan dengannya perihal anak-anak. Pastikan apakah ia merasa nyaman di tengah mereka dan senang memberikan sebagian dari dirinya untuk mereka. Jika anak-anak adalah untuk masa depan Anda, pastikan bahwa pria itu tahu betul cara mengasihi mereka.
  10. Mempunyai Integritas   Pria yang tepat tidak patut menjadi pria pengingkar dan tidak konsisten. Ia harus menjadi pria yang melakukan apa yang telah dikatakannya. Integritas dan karakter berkaitan erat.
  11. Mengasihi   Pria yang tepat harus mengasihi Anda. Pastikan bahwa ia tahu betul secara mendalam cara untuk mengasihi dan memenuhi kebutuhan Anda. Bahwa ia mendahulukan kepentingan Anda daripada dirinya sendiri. Bahwa kasihnya akan membuatnya melayani Anda dan mau mengorbankan hidupnya bagi Anda.

 

Keluarlah, kemudian carilah pria yang tepat dan hindari semua tipe pria yang tidak tepat. Tuhan memberkati Anda untuk mencari pria yang tepat.

 

(Diambil dari buku “Jangan Salah Pilih!” tulisan Stephen Arterburn & Dr. Meg J. Rinck. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Be a PERFECT Parent

Kendati pengasuhan adalah tugas yang sulit dan kerap kali memusingkan, tapi adalah sungguh membuahkan hasil dan memuaskan untuk berbagi perkembangan anak semenjak ia baru lahir, sebagai bayi yang belum mandiri, lalu meningkat menjadi anak yang mandiri, hingga balita yang kian mandiri, menuju anak remaja yang tumbuh pesat, dan terutama, menjadikan anak sebagai seorang muda dewasa yang sukses, mandiri, dan dicintai.

Dengan mengungkapkan setiap huruf “P-E-R-F-E-C-T“, ketujuh rahasia ini akan membantu Anda mengembangkan anak yang produktif dan penuh rasa kepedulian. Meski kesempurnaan yang total adalah mustahil, Anda tidak bisa menjadi orangtua yang sempurna dan demikian pula putra-putri Anda tidak mungkin menjadi anak yang sempurna, hasrat untuk benar-benar unggul adalah tujuan yang didambakan dan akan membawa Anda ke arah yang benar:

 

  1. “P” = PRIORITIZE. Buarlah prioritas: Rancanglah rencana mingguan untuk membantu Anda dan pasangan untuk saling memahami satu sama lain dan menyeimbangkan kebutuhan keluarga, tanggung jawab, dan berbagai keinginan sesuai urutan kepentingannya: Kesejahteraan anak adalah yang pertama. Berilah putra-putri Anda perawatan dasar, cinta, kenyamanan, keamanan, dan lingkungan rumah yang bahagia serta terorganisasi.
  2. “E” = EXPERIENCE. Alami kehidupan bersama anak Anda: Perkenalkan dunia sekitar kepada anak dan berbagilah kegembiraan dari menjelajahi lingkungan sekitar dengan pancaindranya. Nikmati melihat-lihar pemandangan, mendengarkan suara, membaui aroma, mengecap rasa, dan menyentuh berbagai objek dan tempat baru. Ikuti berbagai acara yang sesuai dengan umurnya. Hargai si kecil sebagai manusia yang berakal budi dengan bertukar pemikiran, ide, dan pendapat dengannya.
  3. “R” = ROUTINIZE. Ciptakan rutinitas namun jangan “merobotisasi”: Tetapkan rutinitas, aturan, batasan, dan panduan, untuk membantu menata kesibukan hidup Anda dan untuk membangun disiplin, tanggung jawab pribadi, dan ekspektasi sosial. Individu yang sehat adalah yang mudah beradaptasi, kreatif, dan luwes dalam dunia mereka yang tertata; karenanya, sesekali doronglah adanya perubahan dan pilihan.
  4. “F” = FOLLOW THROUGH. Penting untuk memelihara konsistensi, rasa aman, dan kejujuran. Buatlah janji yang dapat Anda penuhi, buatlah aturan yang akan dihormati oleh semua anggota keluarga, buatlah harapan-harapan yang realistis. Ketika Anda menindaklanjuti secara rutin, Anda sedang mengajarkan kepada si kecil bahwa Anda dapat dipercaya.
  5. “E” = ENCOURAGE. Kembangkan kekuatan anak, atasi kelemahannya, dan ia akan tumbuh pesat secara intelektual, fisik, emosi, sosial, dan kreatif. Pujilah keberhasilan pencapaiannya saat ini untuk mendorong keberhasilan yang akan datang. Jadilah teladan bagi putra-putri Anda. Saat Anda memberikan waktu dan dedikasi Anda, Anda juga akan mendemonstrasikan nilai-nilai komitmen dan tanggung jawab.
  6. “C” = COMMUNICATE. Ketika Anda menaruh perhatian pada perasaan, ekspresi wajah, bahasa tubuh, pada “apa yang dikatakan” dan “apa yang tidak dikatakan”, Anda membuka alur komunikasi serta merasa “selaras” atau terhubung. Seiring anak bertumbuh, doronglah ekspresi perasaan, gagasan pribadinya, dan kembangkan percakapan yang tulus dan jujur. Ciptakan suasana penuh kasih dan demokratis serta senantiasa bersedia mendengarkan dan membantu anak dalam membuat keputusan.
  7. “T” = TEACH. Anda adalah guru pertama dan yang paling penting bagi anak dalam menyampaikan pengetahuan, kekuatan emosional, pengalaman sosial, moral, etika, dan nilai-nilai. Anda megnajar dengan berkomunikasi, hidup bersama-sama, dan menjadi teladan yang positif.

 

Nikmati keajaiban setiap momen berasama anak Anda dan tugas pengasuhan anak Anda pun akan sukses secara SEMPURNA.

 

(Diambil dari “Be A Perfect Parent” tulisan Shelly Herold, MS, Ed. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Mengubah citra diri adalah hal yang sulit. Perilaku citra diri yang buruk selalu muncul. Pada saat memasuki jalur perbaikan diri, kita masih cenderung mempertahankan pola-pola lama, seperti menyalahkan diri sendiri, memendam rasa bersalah, dan menjelek-jelekkan diri sendiri.

Ada beberapa saran yang bisa Anda gunakan untuk memacu peningkatan citra diri Anda.

 

TERIMALAH PUJIAN — Selalu ucapkan terima kasih atau kata-kata lain yang sejenis.

BERIKAN PUJIAN — Salah satu cara termudah untuk merasa senang tentang diri sendiri adalah dengan mengenali kebaikan dalam diri orang lain.

KEMUKAKAN SEGI POSITIF DIRI ANDA — jika Anda tidak mempunyai suatu hal yang positif tentang diri Anda untuk Anda kemukakan, jangan berkata apa-apa!

PUJILAH DIRI SENDIRI — saat Anda melakukan sesuatu dengan benar, pujilah diri Anda sendiri. Kenalilah harga diri Anda sendiri.

PISAHKAN PERILAKU ANDA DARI DIRI ANDA — sadarilah bahwa perilaku Anda tidak berkaitan dengan harga diri Anda. Jika Anda melakukan hal yang konyol, seperti menabrak mobil orang lain, itu tidak berarti Anda orang yang jahat. Anda semata-mata melakukan kesalahan. (Cintailah pendosa, bencilah dosanya.)

PERLAKUKAN TUBUH ANDA DENGAN BAIK — hanya itulah milik Anda satu-satunya. Apa pun yang kita lakukan akan mempengaruhi orang lain. Latih dan peliharalah tubuh Anda.

BIARKAN ORANG TAHU TENTANG PERLAKUAN YANG ANDA HARAPKAN — khususnya, beri contoh bagaimana Anda memperlakukan diri Anda dan mereka. Tidak seorang pun layak menerima perlakuan buruk dari orang lain!

BERGAULAH DENGAN ORANG YANG BAIK

NIKMATILAH KESENANGAN TANPA HARUS MERASA BERSALAH

GUNAKAN PENEGASAN

BACALAH BUKU-BUKU YANG MEMBANGKITKAN IDE DAN INSPIRASI

SELALU BAYANGKAN ANDA MENJADI SESEORANG YANG ANDA INGINKAN, BUKAN MEMBAYANGKAN KEADAAN ANDA SEKARANG. ANDA AKAN CENDERUNG BERGERAK KE ARAH PIKIRAN YANG MENDOMINASI ANDA.

 

(Diambil dari buku “Being Happy!” tulisan Andrew Matthews. Buku tersedia di bibliotherapy PKPP)

Menghilangkan Kebiasaan Buruk

Kebiasaan merupakan suatu tindakan atau sikap yang selalu dilakukan dengan cara yang sama, bila orang berhadapan dengan kondisi yang sama. Kondisi tertentu akan membuat orang bereaksi atau bertindak tertentu juga. Maka kalau kondisi tertentu itu sering dihadapi, dengan sendirinya orang yang bersangkutan mengulang-ulang tindakan yang tertentu juga, sehingga menjadi terbiasa dan menjadi semacam cara hidup. Karena terbentuknya kebiasaan tersebut lewat pengulangan-pengulangan, maka tindakan yang sudah menjadi kebiasaan dapat dilakukan dengan cepat dan mudah, tanpa harus banyak berpikir.

Kita semua mempunyai kebiasaan baik maupun buruk yang tidak muncul dengan tiba-tiba. Semua kebiasaan merupakan akibat dari pengulangan-pengulangan. Semakin banyak kita mengulangi tindakan yang sama, semakin tindakan itu mengakar dalam diri kita. Itulah sebabnya mengapa kebiasaan yang sudah mengakar menjadi sulit dihilangkan.

Kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita miliki dapat menghambat pergaulan kita dengan orang lain, membuat kita dijauhi, dan dapat mengakibatkan berbagai macam gangguan mental. Maka kalau kita ingin merasakan kebahagiaan dalam hidup ini, kita harus berani memerangi kebiasaan buruk yang ada pada diri kita.

 

Memiliki Motivasi yang Kuat

Agar kita dapat memiliki motivasi yang kuat dan tahan terhadap tekanan-tekanan, perlu kita tanyakan pada diri kita sendiri, mengapa kita ingin menghilangkan kebiasaan buruk kita. Kemudian buat daftar alasan-alasan yang memperkuat motivasi kita. Motivasi yang kuat akan memperkeras kemauan kita, membuat kita pantang menyerah dan dengan tekun memperjuangkan apa yang kita inginkan.

Memiliki Kemauan yang Keras

Motivasi yang kuat belum cukup kalau belum dapat menimbulkan kemauan yang keras atau kehendak yang kuat. Kemauan yang keras dibutuhkan tidak hanya untuk memulai saja, tetapi lebih-lebih untuk kelangsungan usaha memerangi kebiasaan buruk itu sendiri. Usaha untuk menghilangkannya akan banyak menghadapi hambatan dan godaan, mungkin kita harus jatuh-bangun, dan harus tetap berjuang terus tanpa kenal menyerah. Usaha semacam itu tidak mungkin berhasil tanpa motivasi dan kehendak yang kuat.

Hentikan Sama Sekali

Setelah memiliki motivasi dan kehendak yang kuat, kita harus menentukan strategi mana yang akan kita pakai untuk memerangi kebiasaan buruk kita. Apakah kita akan menguranginya sedikit demi sedikit, atau menghentikannya sama sekali? Apabila kebiasaan buruk itu merupakan dosa, maka tidak bisa dihilangkan sedikit demi sedikit, harus dihentikan sama sekali.

Hilangkan Satu per Satu

Kalau kita sekaligus ingin menghilangkan banyak kebiasaan buruk yang kita miliki, pasti akan mengalami kegagalan. Sebaiknya kita buat dulu daftar kebiasaan-kebiasaan buruk mana yang ingin dihilangkan. Lalu pilih salah satu dan rincikan kebiasaan buruk mana yang ingin kita hilangkan lebih dulu, mengapa, apa yang akan kita lakukan, kapan mulai, dsb. Setelah satu kebiasaan buruk dapat dihilangkan, lalu pilih salah satu kebiasaan buruk lain dari daftar kita, begitu seterusnya.

Memberikan Hukuman dan Pujian

Hukuman membuat orang berpikir dua kali sebelum melakukan perbuatan yang tidak baik. Sedang pujian yang diberikan apabila orang berhasil mengalahkan kebiasaan buruknya, akan memperkuat usahanya untuk tetap berjuang melawan kebiasaan buruk yang ia miliki.

 

Kalau kita hanya berjuang mati-matian untuk menghilangkan kebiasaan buruk saja, mungkin usaha kita akan menjadi kurang efektif dan kepribadian kita kurang berkembang. Maka usaha itu harus dibarengi dengan usaha mengembangkan kebiasaan yang baik.

Kapan Mulai?

Saat paling baik adalah pada awal masa kanak-kanak, di mana masih mudah sekali dibentuk. Lalu bagaimana dengan kita yang sudah menjadi orang dewasa? Kita masih mempunyai waktu untuk memperbaiki diri dan mengembangkan kebiasaan yang baik. Sekaranglah saatnya. Jangan menunda sampai nanti atau tahun depan.

Bagaimana caranya?

Pertama-tama harus kita rumuskan kebiasaan baik apa yang akan kita kembangkan, sekonkrit mungkin. Pilih yang dapat kita lakukan dengan motif dan kehendak yang kuat. Jangan mulai dengan banyak kebiasaan baik sekaligus dan berikan diri kita hukuman kalau gagal atau pujian kalau berhasil. Kita harus mempraktekkannya dalam setiap kesempatan yang ada dari hari ke hari. Dengan demikian, lama-kelamaan kebiasaan baik tersebut akan mengakar dalam diri kita. Meskipun demikian, mengembangkan kebiasaan baik tidak bisa hanya usaha kita sendiri, tetapi juga merupakan bantuan Tuhan. Tanpa Tuhan, kita menjadi tidak berdaya dan tanpa usaha kita pun bantuan Tuhan menjadi sia-sia.

 

KEMANA MENCARI BANTUAN?

Kita tidak harus berjuang sendirian. Mintalah bantuan pada sahabat dekat, keluarga, atau orang lain yang dapat kita percayai, misalnya konselor. Mereka pasti bersedia membantu kita, asalkan kita mau terbuka pada mereka.

 

We Care, So We Share..

 

(Artikel diambil dari buku “Menghilangkan Kebiasaan Buruk” tulisan Florence Wedge. Buku tersedia di bibliotherapy PKPP)

 

Ketika Orangtuamu Tidak Menyukai Pacarmu

Kamu sudah berpacaran dengan seseorang hampir satu bulan. Tiba-tiba, pada suatu makan malam, orangtuamu berkata, “Nak, kami pikir dia bukan seseorang yang tepat buatmu. Kami ingin kamu berhenti menemuinya.”

Apa yang akan kamu lakukan?

Mungkin kamu ingin berteriak kepada orangtuamu dan protes. Atau kamu akan duduk dalam posisi “shock” selama tiga jam penuh tidak mampu bergerak. Atau kamu akan pura-pura mendadak tuli, dengan tenang menghabiskan makan malamu. Atau kamu akan menangis histeris; begitu histerisnya sampai kamu meracau. Atau melakukan hal-hal lain?

Meskipun kamu merasa mengenal pacarmu lebih baik dari mereka (bagaimanapun juga, kamulah yang pacaran dengannya kan?), intinya adalah bahwa Allah ingin kamu menaati orangtuamu (baca Efesus 6:1; Kolose 3:20).

 

Sekalipun mereka tidak masuk akal?

Ya, sekalipun demikian. Pengecualiannya adalah seandainya ibu atau ayahmu menyuruhmu untuk melanggar hukum.

 

Baik, LALU apa yang selanjutnya kulakukan?

Jawaban: Taatilah mereka.

Kamu mungkin berpikir bahwa di dunia ini kamu memiliki hak untuk menentang mereka, “lakukan apa maumu, berdebat, dan menjerit sampai mereka tidak kuat mendengarnya dan memberikannya — tapi, coba tebak? Sesungguhnya kamu tidak memiliki hak apa pun.

Jika kamu serius bahwa Allah menjadi yang nomor satu, hakmu menjadi hak-Nya. Dengan kata lain, Ia memiliki hakmu. Bapa di Surga mengetahui minat terdalam hati kita, Ia telah menciptakan sebuah struktur bagi kita untuk hidup di dalamnya. Struktur itu adalah:

TUHAN

Ibu dan ayah

anak-anak

(Allah berada di puncak karena Ialah yang memikirkan semuanya dan karena Ia Mahakuasa dan berkuasa atas segalanya)

 

Jadi, sekalipun kamu tidak setuju dengan apa yang dikatakan orangtuamu, Allah masih memerintahmu untuk menghormati dan mematuhi mereka karena mereka berkuasa atas dirimu. Kadang-kadang, mereka akan membuat kesalahan. Ketika mereka melakukannya, teruslah mengasihi mereka, berdoa untuk mereka dan menaati mereka. Sementara kamu mematuhi mereka, namun tidak setuju dengan keputusan mereka, berdoalah bagi mereka.

 

Jalan Tuhan adalah yang terbaik. ketika tampaknya berat dan tidak masuk akal, PERCAYALAH KEPADANYA. Jika memang kehendak Tuhan, kamu dan pacarmu bersatu, Ia cukup berkuasa untuk melakukannya.

 

Tapi bagaimana kalau orangtuaku bukan Kristen? Dan, mereka tidak mau berdoa tentang hal itu?

Menurutmu, apa yang akan menjadi kesaksian yang lebih besar dari mereka? Mereka akan melihat Yesus melalui tindakanmu. Jadi, tidak masalah kalau ayah dan ibumu Kristen atau bukan. Allah masih saja cukup berkuasa untuk melakukannya. Kehendak-Nya pasti akan terjadi!

 

(Sumber: “Love Sex & Dating” tulisan Greg Johnson & Susie Shellenberger. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)