Jangan Genggam Amarahmu!

Banyak hal dalam hidup sehari-hari yang membuat kita marah; mulai dari meninggalnya orang yang kita kasihi sampai kunci yang hilang. Kita semua pernah marah–dan marah itu wajar. Tetapi jika kita mengelolanya dengan sehat, kemarahan akan membuyarkan hidup Anda.

Jadi, tanyakan pada diri Anda…

Apa yang akan saya lakukan dengan kemarahan ini?

Bagaimana saya dapat meluapkan kemarahan tanpa merugikan orang lain atau diri sendiri?

Dapatkah saya menggunakan rasa frustrasi dan kemarahan untuk hal yang baik?

Temukan jawaban dari pertanyaan di atas dalam buku ini.

Jika tidak, kemarahan hanya akan membelenggu Anda dengan kepahitan dan kebencian.

 

(buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Ikuti Kata Hatimu

Ikuti Kata Hatimu menemukan tujuan hidupmu.

Buku ini tentang:

  • Bagaimana orang BAHAGIA berpikir
  • Mengapa orang KAYA mendapatkan uang, bahkan secara kebetulan
  • Melakukan PEKERJAAN yang Anda cintai

Buku ini adalah tentang melakukan apa yang Anda cintai, menemukan kekuatan diri sendiri, dan memberikan ketenangan pikiran. Sebuah peta jalan yang penuh dengan inti spiritual yang mudah dimengerti, serta humor yang akan membantu Anda bertanggung jawab atas kebahagiaan dan menjalani kehidupan yang Anda impikan.

 

(buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Membentuk Anak Laki menjadi Pria Dewasa

Seorang ayah memikul tanggung jawab untuk membesarkan dan secara khusus memberikan bekal kepada anak laki-laki agar mereka bertumbuh besar menjadi seorang pria dewasa yang memang kita harapkan, khususnya yang Tuhan harapkan.

Anak-anak perlu menyerap sifat kelaki-lakian dari ayahnya. Proses ini disebut identifikasi, yaitu proses memasukkan sifat-sifat, perilaku, pola tingkah laku, pola pikir, atau pengungkapan emosi dari ayah atau orang tua ke dalam diri anak laki-laki. Contohnya, ibu marah-marah sedikit, ayah tidak menanggapi dengan emosional tapi mencoba untuk memberikan penjelasan dan lebih tenang. Sifat atau perilaku tersebut akan diserap oleh anak, menjadi bagian dirinya sendiri.

Kita perlu menyadari betapa pentingnya kehadiran ayah di dalam diri anak laki-laki, karena apa yang dikatakan dan dikemukakan itu akan diserap oleh dirinya. Anak laki-laki akan menyerap yang baik maupun yang buruk dari sifat-sifat dan tingkah laku ayahnya sebagai pria dewasa.

Persiapan yang harus dilakukan seorang ayah adalah:

  1. Seorang ayah harus hadir dan terlibat dalam kehidupan si anak.
  2. Seorang ayah harus rajin berkomunikasi dengan anaknya.

Kalau anak sudah menyerap hal-hal positif dan negatif karena mencontoh ayahnya, itu tidak akan membuat dia kesulitan dalam terjun ke masyarakat nantinya.

Sesuai dengan perkembangan usia anak, ada beberapa hal yang secara terencana perlu ayah ajarkan kepada anak laki-laki khususnya adalah:

  1. Mengajar anak mengambil keputusan. Penting bagi ayah untuk tidak mempermalukan atau melecehkan si anak sewaktu ia tidak bisa mengambil keputusan. Yang ditekankan di sini adalah bukan memberikan jawaban langsung kepada si anak, tetapi mengajarkan proses pengambilan keputusan itu sendiri kepada anak. Adakalanya ayah perlu membiarkan anak mengambil keputusan yang memang terasa kurang pas, tapi selama tidak berkaitan dengan dosa dan tidak membahayakan jiwanya, maka sekali-sekali biarkanlah. Dengan cara itu, dia akan lebih berani mengambil inisiatif.
  2. Ada anak laki-laki yang sering kali mencoba bereksprerimen, dalam hal ini dukungan orang tua khususnya ayah sangat diperlukan. Keberanian mengambil resiko adalah sifat pria yang baik dan dihormati. Waktu dia mengambil resiko melakukan sesuatu, sang ayah harus berhati-hati; jangan terlalu cepat mengevaluasi, mengkritik, mencela atau menjatuhkan anak.
  3. Dalam menghadapi tugas, seorang anak laki-laki diharapkan menjadi orang yang sigap, bukan malas-malasan dan lamban. Yang sulit di sini adalah memberikan teladan kepada anak, dan yang seringkali anak lihat akhirnya bukanlah perkataan kita tapi perbuatan kita.
  4. Anak harus dipersiapkan untuk bersosialisasi. Dalam hubungannya dengan lawan jenis, ajarkan anak-laki-laki untuk mempunyai sikap atau persepsi yang tepat terhadap wanita, yaitu melindunginya bukan memanfaatkannya. Dalam halnya dengan hubungan dengan sesama laki-laki, ayah perlu mengajarkan bahwa dia setara dengan yang lain.

Di dalam memberikan bimbingan terhadap seorang anak laki-laki menjadi pria dewasa yangbaik, ada 3 hal yang kita harus waspadai:

  1. Jangan sampai kita terlalu terjebak dalam perbedaan antara feminin dan maskulin. Misalnya, anak laki-laki tidak boleh menangis, atau anak laki-laki tidak usa cuci piring karena itu pekerjaan wanita, dsb.
  2. Jangan menghina anak laki-laki karena ia peka terhadap penghinaan. Misalnya menyamakan dia dengan wanita, memarahinya di depan temannya.
  3. Jangan mengharuskan anak laki-laki menyukai hobby kita. Atau dengan kata lain, jangan sampai kita mencoba untuk mencetaknya menjadi jiplakan kita.

 

(Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Workshop Psychological First Aid for Abused Teenager

 

Kondisi kehidupan orang dewasa masa kini penuh dengan ketegangan dan persaingan yang membuat pola kehidupan semakin rentan dengan ketertekanan. Dampaknya, seseorang menjadi tidak terampil mengendalikan emosinya, sehingga tidak bisa dipungkiri saat ini banyak anak yang mengalami tindakan kekerasan dari orang-orang dewasa di sekitarnya maupun rekan sebaya, yang mengakibatkan anak-anak rentan stres. Sementara anak yang menjadi korban tidak berani menyuarakan penderitaannya, sehingga kondisi ini akan mempengaruhi perkembangan psikologis yang bisa berdampak negatif dalam kehidupannya bahkan juga mempengaruhi prestasi belajar mereka.

Workshop ini diadakan untuk menyiapkan para konselor remaja agar dapat menolong anak-anak yang menjadi korban kekerasan / bullying dari lingkungannya.

Club SEDIA: The Unspoken “HELP!!”

Pada hari Jumat, 28 Oktober 2016 yang lalu, PKPP mengadakan seminar bagi para anggota club Siap Empati Dalam sItuasi Apapun (Club SEDIA) dengan judul The Unspoken “HELP!!”. Seminar yang disampaikan oleh dr. Harsono Wiradinata, Sp.KJ (Psikiater) ini dihadiri oleh 39 orang, tidak hanya yang tergabung dalam club SEDIA, namun juga dosen dan karyawan lainnya yang memiliki kepedulian pada mahasiswa.

dr. Harsono Wiradinata, Sp.KJ (Psikiater)

The Unspoken “HELP!!” ini berbicara mengenai gejala dan pertolongan pertama bagi penderita skizofrenia, yaitu suatu gangguan psikologis yang membuat penderitanya sulit membedakan antara kenyataan dan pikiran sendiri, sering berhalusinasi, dan tidak relevan dengan dunia real. Hal ini tentu akan mengganggu kegiatan sehari-hari penderitanya. Namun mereka enggan untuk menyampaikan kondisi mereka, karena malu atau ketakutan dianggap ‘gila’.

Dalam seminar ini dr. Harsono menyampaikan banyak hal mengenai penyebab, gejala, serta cara menolong penderita skizofrenia ini. Peserta yang antusias mengikuti seminar ini juga melontarkan pertanyaan-pertanyaan terkait pengalaman mereka mendampingi mahasiswa dengan berbagai problematikanya.

 

 

 

Mengambil Keputusan Secara Efektif

Kita diberi Tuhan kehendak bebas untuk bisa memilih jalan yang hendak kita lalui. Setiap manusia tak luput dari masalah hidup yang menghadapkannya pada banyak pilihan. Oleh karena itu, kita harus jeli dalam mengambil keputusan.

Berikut ini adalah delapan prinsip mengambil keputusan secara efektif:

 

1. DOA

Doa adalah pembicaraan dua arah. Jadi, bicaralah kepada Tuhan dan mohon petunjuk-Nya. Kemudian dengarkan jawaban-Nya.

 

2. BUATLAH KEPUTUSAN TENTANG APA YANG HENDAK ANDA LAKUKAN

Tanyakan kepada diri sendiri, mengapa saya harus mengambil keputusan ini? Masalah apa yang harus diselesaikan? Apa saja pilihan yang tersedia? Hindari keputusan yang ragu-ragu dan bias. Sediakanlah tiga atau lebih pilihan dalam setiap pengambilan keputusan. Berpikirlah kreatif dan perbanyak pilihan-pilihan Anda.

 

3. KUMPULKAN INFORMASI

Kumpulkan informasi sebanyak mungkin, jangan menunggu terlalu lama untuk memutuskan. Hindari terperangkap dalam analisis yang berkepanjangan. Biasanya, keputusan yang tepat dapat diambil setelah tersedia 100% informasi. Namun, dianggap cukup bila informasi yang terkumpul sudah mencapai 50-75%. Jadi, 50% informasi sekali pun dapat menunjang Anda mengambil keputusan yang baik.

 

4. BUATLAH DAFTAR SEBAB DAN AKIBAT

Daftar ini akan membantu Anda berpikir jernih. Daftar sebab-akibat yang mengandalkan logika harus Anda buat sebelum memutuskan sesuatu.

 

5. DENGARKANLAH INSTING DAN INTUISI ANDA

Tapi, bukan berarti Anda harus benar-benar memercayai perasaan tanpa memedulikan logika karena perasaan kurang bagus diandalkan sebagai penganalisis yang jernih. Sebaliknya, pengambilan keputusan yang tepat didapatkan dari mendengarkan intuisi Anda–seperti jika Anda menggunakan logika Anda. Jadi, gabungkanlah logika dan intuisi dalam setiap pengambilan keputusan.

 

6. PERTIMBANGKAN SKENARIO TERBURUK

Kejadian terburuk apa yang mungkin terjadi bila Anda mengambil keputusan dengan cara yang telah Anda pilih? Memikirkan kemungkinan terburuk akan membantu Anda mengidentifikasi kekhawatiran dan ketidakpastian. Biasanya, kedua hal ini dapat mencegah Anda yang terlalu cepat dalam mengambil keputusan. Dengan mengetahui kekhawatiran dan halangan yang ada, Anda terbantu untuk melihat persoalan dengan lebih jernih.

“Jika Anda benar-benar mau melakukan sesuatu, Anda akan menemukan jalan; jika tidak, Anda akan menemukan suatu alasan.” — Norman Vincent Peale

7. CARILAH PENASIHAT YANG DAPAT DIPERCAYA

Pandangan dan pendapat orang lain–apalagi dari ahlinya–seringkali diperlukan karena dapat membantu menjernihkan permasalahan yang sedang dihadapi. Memang Anda tidak harus menuruti nasihat orang lain, tapi setidaknya Anda menjadi lebih bijak dengan mendengar dan mempertimbangkannya.

 

8. AMBILLAH KEPUTUSAN

Jangan berdalih. Jangan menunda-nunda –putuskan. Lanjutkan dengan melakukan keputusan Anda dan percaya pada bimbingan Tuhan sebagai jawaban atas doa Anda.

“Kalau keputusan sudah diambil, berhentilah khawatir dan mulailah bekerja.” –William James

 

(Febe Chen dalam bukunya “Menjadi Pribadi Unggul”. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Biarkan Kesendirian Membantu Mengatasi Kesepian Anda

Ada kalanya kita merasakan keramahan, simpati, dan mendapatkan hiburan dari orang lain. Namun ada kalanya pula kita harus sendirian tanpa teman. Dalam zaman modern yang semakin ramai seperti sekarang ini, orang menjadi semakin takut bila harus sendirian, sehingga tidak mengherankan bila banyak yang melarikan diri dalam keramaian atau mengikuti suatu perkumpulan hanya sekedar untuk menghindari kesendirian.

Memang kesendirian dapat membuat kita dicengkam oleh rasa kesepian. Namun apabila kita menerima kesendirian sebagai fakta yang tak dapat dihindari, kemudia berusaha memanfaatkannya, maka kesendirian dapat menjadi saat yang produktif dan kreatif, serta banyak maknanya bagi kehidupan kita.

 

Saat untuk Lebih Mengenal Diri Sendiri

Kalau kita sendirian, kita mempunyai kesempatan untuk berhadapan dengan diri kita sendiri dalam keheningan, sehingga saat semacam itu dapat merupakan saat untuk lebih mengenal diri sendiri, untuk melihat kekuatan dan kelemahan kita, menemukan hal-hal baru dalam diri kita ataupun menemukan kemampuan-kemampuan yang selama ini terpendam, dan juga merupakan kesempatan untuk membuat rencana pengembangan diri. Dengan demikian kita juga punya kesempatan untuk belajar mencintai diri sendiri dan merasa bahagia dengan diri kita sendiri.

 

Saat untuk Memperoleh Kekuatan Batin

Memang apabila orang dapat mengubah kesendirian menjadi suatu keheningan yang konstruktif, maka kesendirian akan dapat membantu kita memperoleh kekuatan batin kembali. Kita akan menemukan hal-hal baru dalam diri kita, dan kehendak Tuhan terhadap diri kita menjadi semakin jelas.

 

Saat untuk Berkreasi

Seni budaya dan ilmu pengetahuan tidak tercipta di tengah keramaian, tetapi di dalam kesunyian. Hanya dalam kesendirian orang dapat mengembangkan ide-ide yang muncul dalam pikirannya. Kalau kita terpaksa harus tinggal sendirian dan merasa bahwa tidak ada ide-ide yang dapat dikembangkan, hobi pun dapat membantu kita memanfaatkan kesendirian secara kreatif.

 

Jadi, kesendirian dapat menjadi kesepian atau tidak, itu tergantung dari diri kita sendiri, kita bisa memanfaatkan kesendirian itu atau tidak. Maka salah satu cara mengatasi rasa kesepian adalah belajar memanfaatkan kesendirian, sehingga kita dapat tinggal sendirian tanpa merasa kesepian.

 

(“Mengatasi Rasa Kesepian” tulisan Florence Wedge)