‘Small Talk’: Boost Up Your Self-Confidence!

Guys, tau ga sih? Kurang pede tuh bisa berdampak besar bagi hidup seseorang disadari ato tidak..

  • Selalu melihat yang buruk… sulit melihat sisi positif diri
  • Gak nyaman… canggung sewaktu berteman.. bahkan akhirnya menghindari pergaulan
  • Mimpi dan segala potensi diri pun akhirnya jadi terhambat juga…

Nah.. pingin meningkatkan rasa percaya diri?

Yuk gabung di acara ‘small talk’ di PKPP. Pilih tanggal yang ada atau tentukan sendiri waktu yang sesuai trus daftar deh!

Acara yang santai tapi bermanfaat besar untuk membangun percaya diri kamu.

 

We Care, So We Share

Lima Tingkat Komunikasi

Seperti halnya bermanfaat mengenali pola komunikasi tertentu, juga akan bermanfaat jika kita mengerti berbagai tingkat komunikasi yang ada. Semua komunikasi tidka sama dalam hal nilai. Beberapa tingkat komunikasi membantu bertumbuhnya keintiman yang lebih besar dibandingkan yang lain. Kita pasti berkomunikasi pada kelima tingkat, tetapi dalam hubungan pernikahan kita ingin menghabiskan lebih banyak waktu pada tingkat yang lebih tinggi.

Di sini, kita akan membahas lima tingkat komunikasi supaya Anda akan mampu mengenali tingkat Anda di dalam percakapan apa pun. Dengan informasi ini, Anda dapat menaikkan tingkat komunikasi dengan pasangan Anda dan dengan demikian membangun keintiman yang lebih besar. Gambaran kelima tingkat tersebut seperti lima anak tangga naik yang membawa ke panggung yang besar di mana akan ada komunikasi yang bebas dan terbuka.

 

Tingkat 1: Pembicaraan Lorong–

“Baik, bagaimana kabar Anda?”

Tingkat komunikasi ini dangkal, tapi kita semua banyak berkomunikasi pada tingkat ini. Tingkat 1 melibatkan percakapan permukaan — hal-hal yang menyenangkan dan sopan yang kita katakan seorang kepada yang lain sepanjang hari, hal-hal yang terduga; faktanya adalah biasanya kita tidak memikirkan apa yang kita ucapkan pada tingkat ini.

“Semoga harimu menyenangkan.” “Aku sayang kamu.” “Hati-hati.” “Sampai ketemu lagi.” “Selamat malam.”

Pernyataan seperti ini tidak boleh dianggap sama sekali tidak berguna. Pernyataan ini positif dan benar-benar mengakui kehadiran pasangan. Ada beberapa pasangan di mana tingkat komunikasi ini akan menghasilkan perbaikan, karena mereka masuk dan keluar kehidupan satu sama lain setiap hari dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Suami saya seorang pilot. Ia pergi selama tiga hari dan di rumah selama tiga hari. Itulah jadwal kerjanya. Ia pulang sesudah tiga hari pergi, dan saya berkata kepadanya, ‘Bagaimana keadaanmu, sayang?’ Ia menjawab, ‘Baik.’ Tiga hari dan yang saya dapatkan hanya ‘Baik,’!! (Ringkasan satu kata untuk tiga hari kepergiannya tidak cukup membuat istrinya merasa dekat dengannya)

Beberapa orang tidak pernah melangkah melalui tingkat komunikasi yang pertama ini dan berbicara selama berhari-hari hanya pada tingkat ini. Mereka tidak perlu heran jika tidak intim dalam hubungan mereka.

 

Tingkat 2: Pembicaraan Reporter–

“Beri saja faktanya kepada saya.”

Percakapan pada tingkat 2 hanya melibatkan fakta: siapa, apa, kapan, dan di mana. Anda mengatakan seorang kepada yang lain apa yang telah Anda lihat dan dengar, kapan dan di mana kejadiannya, tetapi Anda tidak membagikan pendapat Anda mengenai kejadiannya.

Seorang istri berkata kepada suaminya, “Tadi pagi aku bicara dengan Myra, dan katanya Paul sakit selama enam hari. Dokter menganjurkannya ke rumah sakit hari Jumat untuk tes.” Suaminya menjawab, “Hmm.” Si istri melanjutkan, “Kata Myra suaminya mengeluh nyeri di bawah pinggang, dan sesudah enam hari istirahat di ranjang, keadaannya tidak nampak membaik.” Suaminya kembali merespons, “Hmm.” Kemudian istrinya melanjutkan melaporkan fakta tambahan atau mengganti topik, atau mungkin suaminya mengganti topik dan bertanya, “Apakah Junior menemukan anjingnya?” Dan istrinya kembali menjawab dengan fakta. Suaminya keluar dan memotong rumput.

Pada tingkat ini kita hanya berbagi fakta, tetapi tidak menawarkan apa pun dari diri kita dan tidak meminta apa pun dari pasangan–tidak ada opini tentang apa yang kita pikirkan mengenai topiknya, tidak ada ekspresi tentang bagaimana perasaan kita.

Bukan berarti tingkat komunikasi ini tidak penting; keberhasilan sebagian besar kehidupan bergantung pada jenis komunikasi ini. Informasi aktual penting. Namun, intinya adalah pasangan dengan hubungan pernikahan yang buruk biasanya dapat berbicara pada tingkat ini. Mereka hanya berbagi seorang dengan yanglain fakta yang perlu untuk melaksanakan kehidupan sehari-hari, tetapi hubungan mereka tidak lebih dari itu. Hanya sedikit keintiman intelektual, emosional, rohani, dan jasmani terbangun pada tingkat komunikasi ini.

 

Tingkat 3: Pembicaraan Intelektual

“Tahukah kamu apa yang kupikirkan?”

Kita sekarang berbagi opini, penafsiran, atau keputusan mengenai persoalan. Kita mengizinkan pasangan masuk ke dalam cara kita mengolah informasi faktual di dalam benak kita. Bagaimanakah percakapan suami dengan istrinya mengenai penyakit Paul dapat naik dari tingkat 2 ke tingkat 3? Pertimbangkanlah yang berikut ini.

Suami dapat merespons dengan mengatakan, “Tahukah kamu apa yang kupikirkan? Kupikir Paul harus menemui seorang dokter ahli tulang. Ingatkah kamu tahun lalu ketika aku mengalami masalah tulang punggung dan dokter mengatakan aku perlu menjalani traksi selama tiga hari? Aku pergi ke dokter ahli tulang, dan dengan perawatan 30 menit, aku sembuh. Aku pikir Paul perlu menemui seorang dokter ahli tulang.”

Dalam pernyataan ini, suami menyatakan sesuatu mengenai dirinya sendiri, berdasarkan pengalaman masa lalunya. Jika istrinya merespons dengan menyatakan pendapatnya, dan mungkin berdasarkan pengalamannya, ia juga mengambil satu langkah lagi menaiki anak tangga komunikasi dengan membagikan ide dan pemikirannya mengenai topik tersebut.

Jelaslah, kemungkinan konflik jauh lebih mungkin terjadi pada tingkat ini dibanding sebelumnya. Biasanya ketika orang berbicara pada tingkat ini, mereka mengantisipasi respons dari pasangannya. Jika pasangannya menjawab secara positif, mereka terus berbicara dan saling bertanya. Namun, jika sebaliknya yang dinyatakan dengan kata-kata atau ekspresi wajah (kerutan dahi, alis terangkat, mata terpicing, menguap), maka ia dengan cepat mengakhiri percakapan dan mundur ke topik yang lebih aman. Beberapa pasangan menghabiskan sedikit waktu pada tingkat 3 karena mereka tidak suka gagasan mereka ditantang atau dipertanyakan. Secara emosional, mereka terancam; jadi mereka mundur ke tingkat 1 atau 2 dan mungkin tidak pernah melangkah ke tingkat 4.

Kebutuhan akan pertumbuhan komunikasi memberi kebebasan satu sama lain untuk berpikir secara berbeda. Perbedaan seperti ini tidak perlu mempengaruhi keintiman mereka. Namun, ketika yang seorang berusaha memaksa yang lain untuk setuju dengan pendapatnya, maka keintiman menguap dan pertengkaran atau keheningan terjadi.

 

Tingkat 4: Pembicaraan Emosional

“Izinkan aku mengatakan perasaanku kepadamu.”

Pada tingkat 4 kita berbagi emosi dan perasaan kita mengenai segala sesuatu. “Aku merasa terluka, kecewa, marah, gembira, sedih, bersemangat, bosan, tidak dikasihi, romantik, atau kesepian.” Ini adalah jenis kata perasaan yang kita pakai pada tingkat ini.

Jarak antara tingkat 3 dan 4 mungkin merupakan sebuah langkah raksasa. Kita menanggung risiko jauh lebih besar ketika berkomunikasi pada tingkat ini, tetapi kita juga mempunyai potensi untuk masuk ke tingkat keintiman yang lebih tinggi. Kita semua individu yang unik. Ketika kita berbagi perasaan, kita berbagi diri kita. Jadi, dalam sebuah pernikahan, ketika kita berkomunikasi pada tingkat ini, ktia mempunyai potensi meningkatkan keintiman pernikahan.

Beberapa pasangan jarang berkomunikasi pada tingkat ini karena mereka takut emosi mereka tidak akan diterima. Ketika kita menindas perasaan kita, pasangan kita dibiarkan untuk membayangkan apa yang sedang berlangsung di dalam diri kita. Pasangan sering kali keliru menilai pasangannya sehingga kesalahpahaman terjadi.

Untuk merangsang komunikasi, kita harus mulai menerima fakta bahwa kita akan merasa secara berbeda, bahkan mengenai hal yang sama. Kita harus saling memberi kebebasan untuk merasa berbeda dan mendengarkan secara simpatik ketika pasangan mengungkapkan perasaannya. Jika kita dapat mengembangkan iklim penerimaan ini, kita akan menghabiskan semakin banyak waktu pada tingkat komunikasi yang lebih tinggi dan keintiman kita akan meningkat.

 

Tingkat 5: Pembicaraan Kebenaran yang Tulus dan Penuh Kasih

“Mari kita jujur.”

Pada tingkat ini, kita berada di puncak komunikasi. Ini adalah tempat kita dapat membangun pernikahan yang sehat dengan tingkat keintiman yang lebih tinggi. Tingkat ini memungkinkan membicarakan kebenaran dalam kasih. Di sinilah kita jujur, tetapi tidak menyalahkan, terbuka, tetapi tidak menuntut. Ini memberi setiap kita kebebasan untuk berpikir secara berbeda dan merasa secara berbeda. Daripada saling menyalahkan, kita berusaha mengerti gagasan dan perasaan pasangan kita, mencari jalan untuk tumbuh bersama walaupun ada perbedaan di antara kita.

Jika ini terdengar mudah, yakinlah bahwa kenyataannya tidak demikian. Jika ini terdengar mustahil, yakinlah bahwa tidak demikian halnya. Semakin banyak pasangan yang menemukan bahwa dengan pertolongan Tuhan, komunikasi terbuka yang penuh kasih jenis ini menghasilkan pengertian yang mendalam akan kesatuan dan keintiman di dalam pernikahan mereka. Apa yang diperlukan adalah sikap menerima.

“Apakah memang perlu untuk berbagi satu sama lain semua pikiran dan semua perasaan kita?” Jawabannya adalah tidak. Beberapa tahun yang lalu ada penekanan pada keterbukaan dan kejujuran, di mana pasangan didorong untuk berbagi semua pikiran dan perasaan dengan ide bahwa mereka akan menjadi lebih intim. Aliran pikiran itu hanya bertahan sebentar. Banyak pernikahan hancur oleh filosofi seperti ini.

Kenyataannya adalah kita semua kadang-kadang memiliki pikiran dan perasaan yang liar dan gila atau begitu negatif sehingga tidak layak dibagikan. Pikiran seperti itu hanya boleh dibagikan kepada Tuhan (2 Korintus 10:5) dan melangkah maju untuk  menghadapi hidup secara positif dengan tuntutan Tuhan.

♠♠♠

Mengembangkan kesadaran akan lima tingkat komunikasi membuka potensi untuk menolong kita meningkatkan kualitas komunikasi kita. Ketika Anda menghabiskan lebih banyak waktu pada tingkat yang lebih tinggi, Anda pun akan mengalami keintiman yang lebih besar.

 

(Sumber: “Now You’re Speaking My Language” tulisan Gary Chapman. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

 

Bagaimana dan Kapan Membahas Seks dan Seksualitas dengan Anak-Anak Anda

Mendiskusikan kata “S” dapat menimbulkan kepanikan bahkan bagi orangtua yang paling percaya diri sekalipun. Apa yang Anda bagikan, dan kapan… dan bagaimana?

Beberapa orangtua membicarakan seks dan seksualitas terlalu dini, yang lainnya menunggu terlalu lama. Mereka hanya berharap kepada situasi dan munculnya kesempatan untuk membicarakannya. Walaupun demikian, alangkah lebih baik mempunyai panduan dan tujuan yang telah dipikirkan sebelumnya. Juga penting untuk diingat topik yang tepat sesuai dengan perkembangan usia.

 

Membuat Sebuah Perencanaan dan Tujuan

  1. Carilah nasihat para orangtua yang telah menolong anak-anak mereka mengembangkan sikap hidup sehat terhadap kehidupan seksual mereka.
  2. “Melahap” habis buku-buku yang sangat bagus tentang subjek-subjek tersebut
  3. Membuat sebuah daftar berisi topik-topik yang dirasa perlu dibahas dan mulai menempatkan topik-topik tersebut dalam kategori perkembangan yang sesuai.
  4. Kira-kira setiap enam bulan sekali, mengambil waktu untuk mengevaluasi apa yang dirasa perlu didiskusikan dengan anak-anak.

Membangun fondasi

Tentu saja, mengajarkan anak-anak seksualitas yang sehat tidak hanya sekedar menyampaikan informasi, tetapi lebih kepada mendorong hubungan dan sikap yang sehat, dan meletakkan fondasi untuk “teologi seksualitas” yang sehat, seumur hidup.

Kita sebagai orangtua ingin anak-anak mengetahui bahwa Allah menciptakan seksualitas, dan dalam konteks pernikahan, Dia melihatnya sangat baik. Kita ingin anak-anak kita memiliki sikap dan perilaku yang menghormati Allah dalam masalah seksualitas manusia. Sebagai orangtua, kita harus menyiapkan tokoh panutan bagi anak-anak kita sementara kita memperkenalkan topik-topik penting ini kepada mereka.

Kita seharusnya memulai perbincangan ketika anak-anak kita masih sangat muda dan melanjutkannya sampai mereka dewasa. Semakin alami dan berlangsung terus-menerus percakapan tersebut, semakin mudah bagi Anda sebagai orangtua dan bagi anak-anak Anda untuk memiliki perilaku yang sehat terhadap seks dan hubungan relasi.

 

Topik-topik yang Sesuai Umur

Cara yang paling efektif dalam mengajarkan seksualitas yang sehat adalah sedapat mungkin memanfaatkan momen spontan yang datang daripada berbincang secara lebih formal. Gunakan situasi keseharian dan pengalaman hidup sehingga pesan Anda mudah diterima.

Allah menciptakan anak laki-laki dan anak perempuan (usia 3-5 tahun)

Tema penting yang diusung untuk tahapan usia ini adalah fondasi dasar bahwa Allah menciptakan kita (laki-laki dan perempuan) dan tubuh kita (setiap bagiannya). Dia mencintai dan menginginkan kita menghormati-Nya dengan tubuh kita. Perkenalkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, serta bahas masalah keselamatan pribadi dan sentuhan apa yang pantas dan tidak pantas dari orang yang tidak dikenal, baby sitter, atau bahkan anggota keluarga sekalipun. Diskusi ini harus nyaman dan sering dilakukan.

waktu keingintahuan muncul (usia 6-9 tahun)

Tingkat ini merupakan perkembangan dimana anak-anak sangat ingin tahu. Pada tingkat ini Anda mulai memperkenalkan dasar seksualitas. Anda ingin menjawab pertanyaan, “Dari mana datangnya bayi?” Dengan pemahaman akan keingintahuan mereka, kita perlu memperkenalkan anatomi tubuh manusia yang paling dasar dan bagaimana Allah menjadi bagian dari setiap keluarga, mulai dari pembuahan sampai kepada kematian.

menjaga dirimu sendiri kudus (usia 10-13 tahun) — the purity code

Salah satu pesan penting pada tahap perkembangan ini adalah fakta bahwa tubuh kita adalah hadiah dari Allah dan bahwa kita dapat menjalankan Prinsip Kekudusan. Pubertas terjadi pada tahap ini. Ini adalah tahap utama untuk memperkenalkan bahwa seksualitas adalah hadiah dari Allah dan digunakan dalam ketaatan kepada-Nya. Pada akhir tahap ini, hampir semua perlu dibahas — dari hubungan laki-laki/perempuan sampai kepada pornografi di internet, pengaruh budaya, tekanan dari teman sebaya, kesopanan, bercumbu, juga anugrah serta pengampunan.

yang terbaik dari allah untuk tubuh, pikiran, dan hatimu (usia 14-18 tahun)

Pada tahap ini pekerjaan Anda belum selesai. Percakapan dan instruksi dari orangtua perlu dilakukan mengenai topik-topik berkencan, penetapan standar, kekerasan seksual, seberapa jauhkan terlalu jauh itu, belajar untuk secara radikal menghormati lawan jenis, narkoba, alkohol serta seks, berpesta, dan keputusan untuk berintegritas secara seksual. Pada tahap ini, tidak boleh ada percakapan yang ditangguhkan oleh orangtua. Anak-anak sangat rentan dan sedang melewati tahap coba-coba. Percakapan dengan moral yang jujur dan tanpa malu-malu bersama anak-anak Anda akan membuat mereka lebih mudah dalam mengendalikan seksualitas mereka pada tahap yang penting ini. Jikalau orangtua mengkuliahi atau mengkritik, akan memadamkan semangat mereka untuk berdiskusi. Bersikaplah terbuka dan perlihatkan kepedulian yang tulus agar mereka terus terbuka untuk berdiskusi.

 

Ritual Tonggak Bersejarah

Fakta yang tidak boleh dilewatkan pada diskusi pengajaran ini adalah peristiwa dimana tubuh anak-anak kita sedang berkembang dan berubah. Peristiwa penting dalam kehidupan ini perlu dirayakan.

Pengalaman ritual tonggak bersejarah, baik itu formal maupun tidak, adalah tonggak bagi anak-anak Anda untuk mengingat sebuah waktu ketika Anda menghargai dan memberkati perkembangan mereka. Hal tersebut menjadi cara yang indah bagi orangtua dalam membangun relasi dengan anak-anak mereka. Hubungan atau relasi adalah kata kuncinya. Anak-anak mendambakan relasi dengan orangtuanya.

pubertas

Usia sekitar 10,5 sampai 13 tahun adalah saat penting untuk mendiskusikan rincian dari pubertas. Berbincanglah dengan anak Anda sebelum dan sementara perubahan-perubahan tersebut berlangsung. Pastikan Anda tidak lupa untuk mendiskusikan topik-topik dan fakta-fakta yang sering tidak nyaman untuk diperbincangkan, karena jika Anda tidak melakukannya, siapa lagi yang akan melakukannya dengan cara yang Anda sukai?

 

Dalam menentukan bagaimana, kapan, dan dimana dalam mendiskusikan masalah seksual dengan anak-anak kita, ingatlah bahwa setiap anak berbeda, bahkan dalam kelompok usia yang sama sekalipun.

 

(Sumber: “Teaching Your Children Healthy Sexuality” tulisan Jim Burns. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Apa Untungnya Menjadi KIDAL?

Menjadi kidal (aktif menggunakan tangan kiri) ternyata banyak sekali keuntungannya. Tapi kadang dianggap tidak sopan. Para orang tua pun selalu membiasakan anak menggunakan tangan kanan.

Banyak yang berpendapat bahwa penyebab kidal adalah kebiasaan, ada juga yang bilang bahwa kidal adalah keturunan. Orang menjadi kidal karena otak sebelah kanannya dominan. sehingga gerakannya lebih banyak menggunakan bagian tubuh sebelah kiri, sedangkan sebagian besar anak lebih dominan otak sebelah kiri, sehingga gerakannya lebih banyak menggunakan bagian tubuh kanan.

8 – 15% penduduk dewasa adalah kidal. Berbagai penelitian menunjukkan kidal lebih umum di kalangan laki-laki daripada perempuan. Apa saja keuntungan menjadi kidal? Menurut jurnal Neuropsychology, orang kidal lebih cepat merespons rangsangan. Menurut Dr. Nick Cherbuin, peneliti dari Australian National University, “hubungan antara otak kiri dan kanan lebih besar terhubung pada orang yang kidal”. Ini berarti orang yang kidal memiliki keuntungan dalam bidang olah raga, permainan atau kegiatan lain dimana mereka dihadapkan pada rangsangan secara serempak. Keuntungan lainnya, orang kidal bisa memproses berbagai rangsangan lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang menggunakan tangan kanan karena secara teori orang kidal lebih mudah menggunakan kedua belahan otak untuk mengelola rangsangan.

“Berdasarkan penelitian, orang kidal lebih cepat merespons rangsangan.”

 

Otak terbagi dalam dua belahan utama, yaitu kiri dan kanan. Pengolahan bahasa pada sebagian besar orang terjadi pada belahan otak kiri, tapi untuk orang kidal kemungkinan terjadi di kedua belahan otak. Selain itu, ketika salahs atu belahan otak sudah kelebihan beban dan mulai melambat, maka belahan otak lainnya dapat lebih mudah mengisi kekosongan. Menurut para ahli, orang kidal pun akan memiliki mental yang lebih baik saat kemampuan otak sudah melambat di usia tua.

Banyak sekali tokoh dunia dan selebritis terkenal yang kidal, seperti Barrack Obama, George Bush, Bill Gates, Bill Clinton, Pangeran Charles, Pangeran William, Charlie Chaplin, Marrie Curie, dll.

 

(Sumber: “7 Trik Dahsyat Menghafal Cepat”. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Ketrampilan Seorang Pemimpin

Sikap seorang pemimpin yang baik membuat para pengikutnya dapat memercayakan diri mereka padanya. Namun seorang pemimpin perlu membuat gerak dan perubahan nyata. Karena itu, selain memiliki sikap yang tepat, ia juga membutuhkan sejumlah ketrampilan atau skill kepemimpinan.

Ketrampilan adalah kemampuan mengubah sesuatu yang ada menjadi apa yang dikehendaki sesuai dengan rencana.

Ketrampilan menyangkut pengenalan “bahan”, input, atau apa yang dapat diolah. Ketrampilan juga terkait dengan tahap-tahap pelaksanaan, pengolahan, serta bobot atau jumlah energi yang dibutuhkan, bahkan kemungkinan-kemungkinan penyimpangan dan pengecualian. Dalam bahasa Inggris, ketrampilan berkaitan dengan “make things happen”.

Ketrampilan dapat juga disebut sebagai suatu daya transformasi yang memungkinkan seorang pemimpin menjadikan apa yang tersedia menjadi sesuatu yang bermanfaat, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain.

Salahs atu ketrampilan yang paling mendasar untuk dapat memimpin dalam dunia modern adalah ketrampilan untuk mengelola hubungan dengan baik. Untuk komunitas Asia, di mana kompleksitas organisasi dan hubungan antara manusia cukup tinggi, sangat dibutuhkan ketrampilan kepemimpinan yang menghasilkan hubungan baik.

 

Untuk mendukung hal tersebut, dibutuhkan ketrampilan lain seperti berikut:

  1. Ketrampilan berkomunikasi secara interpersonal, antara lain untuk mencari data,
  2. Menciptakan sinergi dalam lingkup kerja dengan menggalang tim yang mampu bekerja sama (bukan sekedar sama-sama bekerja).
  3. Mengambil keputusan secara runtut dan logis.
  4. Mencari alternatif dan mampu berpikir dalam paradigma yang lebih luas

 

Bila ketrampilan kepemimpinan yang dimiliki seseorang seiring dengan sikap yang seharusnya, maka seorang pemimpin tidak hanya akan semakin andal dan terampil, tetapi juga lebih bijaksana.

 

(Dikutip dari buku “Bahan Bakar Sang Pemimpin” tulisan Robby Chandra. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Tiga Pilar Pencapai Sukses

Orangtua yang ingin anak-anaknya mencapai sesuatu yang disebut “keberhasilan” mungkin merasa bahwa tujuan ini bertentangan dengan hasrat mereka supaya anak-anak mereka juga menjadi bahagia. Mencapai keberhasilan, seperti yang sering diartikan oleh masyarakat kita, menekankan kekayaan serta status sosial, dan sering bertentangan dengan mengalami kepuasan, kesenangan, dan kebahagiaan.

Bimbing dan besarkan anak Anda untuk menjadi pencapai sukses. Bagi pencapai sukses, keberhasilan dan kebahagiaan merupakan hal yang sama.

Keberhasilan tanpa kebahagiaan sama sekali bukan keberhasilan.

Konsep pencapai sukses juga menyatakan bahwa bagian penting dari keberhasilan dan kebahagiaan adalah internalisasi nilai-nilai universal — rasa hormat, tenggang rasa, kebaikan, kemurahan hati, keadilan, altruisme, integritas, kejujuran, saling ketergantungan, dan bela rasa — oleh anak-anak. Anak-anak tidak bisa menjadi pencapai sukses juga mereka tidak menjalani dan berpegang pada nilai-nilai penting yang memperkaya hidup ini.

Perkembangan pencapai sukses merupakan hasil pengelolaan Tiga Pilar Pencapai Sukses.

 

Pilar Pertama: Harga Diri

Anak Anda akan mengembangkan harga diriyang tinggi dengan menerima cinta, dorongan, dan dukungan yang tepat. Tapi, anak Anda juga akan memperoleh harga diri yang besar dari rasa mampu yang ia kembangkan dari peluang yang Anda berikan kepadanya untuk mempelajari dan menggunakan berbagai ketrampilan dalam upaya mencapai sesuatu. Harga diri yang tinggi juga berperan sebagai landasan bagi kedua pilar lain yang membentuk inti pencapai sukses.

 

Pilar kedua: Kepemilikan

Anak-anak perlu memperoleh rasa kepemilikan atas minat, upaya, dan prestasi dalam hidup mereka. Kepemilikan ini berarti mereka terlibat dalam sebuah kegiatan karena kecintaan mereka pada kegiatan itu dan kerena tekad mereka sendiri untuk melakukan yang terbaik. Kepemilikan ini juga memberi mereka rasa syukur dan sukacita yang sangat besar yang semakin memotivasi mereka untuk berupaya mencapai prestasi yang lebih tinggi.

 

Pilar Ketiga: Penguasaan Emosi

Orangtua yang melindungi anak-anak dari emosi mereka sebenarnya mengganggu pertumbuhan emosi anak-anak mereka. Hanya dengan diperbolehkan mengalami berbagai emosilah maka anak-anak jadi bisa mengetahui emosi apa yang sedang mereka rasakan, apa arti emosi itu bagi mereka, dan bagaimana cara mereka bisa mengelolanya dengan efektif. Beri anak Anda peluang untuk mengalami emosi secara penuh (positif maupun negatif) dan beri mereka bimbingan untuk memahami dan menguasai kehidupan emosional mereka.

Anak-anak yang tidak berkembang secara emosional masih bisa meraih sukses, tapi mereka sering merasa tidak puas dan tidak bahagia dalam keberhasilan mereka. Penguasaan emosi tidak hanya membuat anak-anak bisa meraih sukses, tapi juga membuat mereka bisa menemukan kepuasan dan sukacita dalam upaya-upaya mereka.

 

(Diambil dari buku “Memberi Dorongan Positif pada Anak agar Anak Berhasil dalam Hidup” oleh Jim Taylor, Ph.D. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Seminar “Rethinking Sex & Homosexuality”

SEKS. Kita adalah makhluk seksual! Seks didesain Tuhan untuk rekreasi dan bukan hanya prokreasi; dinikmati dan bukan hanya mekanisme meneruskan generasi. Namun, mengapa banyak orang memiliki masalah dalam seksualitas?

Bagaimana dengan fenomena homoseksualitas yang makin marak? Mengapa homoseksualitas bisa terjadi? Genetika, pengasuhan, atau pergaulan? Apakah seorang pelaku homoseksual bisa berubah?

Apa yang harus kulakukan jika orientasi homoseksual ada dalam diriku? Bagaimana aku harus bersikap jika temanku seorang homoseksual?

Oleh karena itu, pada tanggal 6 November 2015 yang lalu, Pelma-Pusroh dan PKPP UK Petra, mengadakan acara SEMINAR “Rethinking Sex & Homosexuality” di gedung AV T 502. UK Petra, Surabaya.

IMG_2910
MC membuka acara seminar
IMG_2915
Bemby Reksura, selaku Ketua Panitia, memberikan sambutan
IMG_2942
Sesi tanya jawab

Seminar yang tersedia dalam dua pilihan jam (materi yang sama) ini dipenuhi oleh para mahasiswa, dosen, karyawan, maupun peserta dari luar UKP.

IMG_2905
Peserta memadati ruangan AVT 502

Dalam seminar ini, topik seminar dibahas dari dua sisi; Teologis dan Psikologis dengan pembicara:

Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Pembicara meraih gelar Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, Los Angeles, USA.  Saat ini mengambil program Ph.D. di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven-Belgia.

IMG_2924
Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Michael Christian, S.Psi., M.A.

Pembicara adalah alumnus Master of Arts in Counseling di STTRI Jakarta dan telah mengikuti pelatihan khusus di CCC Singapore. Saat ini melayani sebagai konselor penuh waktu di Lifespring untuk konseling individu, pasangan, dan keluarga.

IMG_2930
Michael Christian, S.Psi., M.A.

Menjadi Diri Sendiri yang Khas

Sudah barang tentu kita semua ingin menjadi diri yang “khas”. Setiap orang mendambakannya. Itu biasa dan amat normal. Tetapi ternyata kita telah menjadi “khas”, “khusus”! Kita adalah manusia unik. Dari sekian banyak manusia, kita adalah “istimewa”. Tak seorang pun di dunia ini pernah dan akan persis sama seperti kita. Kita tidak ada duanya.

Tetapi kita belum sempurna. Kita sedang dan masih harus berkembang. Kita masih berada dalam proses menjadi semakin “khas”, “khusus”, “istimewa”. Hal-hal yang membantu perkembangan itu ada di sekitar kita. Kita bisa memanfaatkannya untuk menjadikan diri kita “penuh”, yang paling baik dan yang unik. Kita bukan orang lain. Kita bukan tiruan manusia lain. Tetapi kita adalah kita.

Oleh karena itu, biarkanlah diri kita berkembang sekarang ini juga. Sebab waktu kini adalah kesempatan yang tak bakal terulang kembali. Kita hanya memiliki satu kehidupan. Waktunya terlalu pendek. Hari kemarin sudah berlalu. Hidup adalah hari ini, dan mengarah ke hari esok.

Jadilah diri yang khusus dengan membiarkan diri kita berkembang. Mulailah sekarang ini juga.

 

(Diambil dari “60 Cara Pengembangan Diri” tulisan Martha Mary McGaw, CSJ)

Dinamika Kelompok “Meaningful Dating”

Buat yang barusan jadian atau yang uda bertahun-tahun pacaran.. Kita tantang kalian untuk cek hubungan kalian selama ini.

Apakah kalian beneran cocok?

Apakah kalian benar-benar mengenal pasangan kalian?

Apa aja yang sudah kalian lakukan agar hubungan kalian sehat dan bahagia?

Bagaimana kalian mengatasi konflik yang muncul?

Yuk.. share sama kita. Kita akan bantu teman-teman untuk membangun sebuah hubungan yang kuat dan bermakna.

 

Bagaimana caranya?

Datang saja ke PKPP, untuk mendaftarkan diri kalian dan pasangan, untuk selanjutnya menentukan waktu pertemuan.

Karena acara ini berupa dinamika kelompok, kalian bisa juga mencari beberapa pasang teman kalian, sehingga pengaturan waktunya lebih enak.

 

Info lebih lanjut silahkan datang ke PKPP gedung D lantai 1 (D 01.11).

See you…