Lima Tingkat Komunikasi

Seperti halnya bermanfaat mengenali pola komunikasi tertentu, juga akan bermanfaat jika kita mengerti berbagai tingkat komunikasi yang ada. Semua komunikasi tidka sama dalam hal nilai. Beberapa tingkat komunikasi membantu bertumbuhnya keintiman yang lebih besar dibandingkan yang lain. Kita pasti berkomunikasi pada kelima tingkat, tetapi dalam hubungan pernikahan kita ingin menghabiskan lebih banyak waktu pada tingkat yang lebih tinggi.

Di sini, kita akan membahas lima tingkat komunikasi supaya Anda akan mampu mengenali tingkat Anda di dalam percakapan apa pun. Dengan informasi ini, Anda dapat menaikkan tingkat komunikasi dengan pasangan Anda dan dengan demikian membangun keintiman yang lebih besar. Gambaran kelima tingkat tersebut seperti lima anak tangga naik yang membawa ke panggung yang besar di mana akan ada komunikasi yang bebas dan terbuka.

 

Tingkat 1: Pembicaraan Lorong–

“Baik, bagaimana kabar Anda?”

Tingkat komunikasi ini dangkal, tapi kita semua banyak berkomunikasi pada tingkat ini. Tingkat 1 melibatkan percakapan permukaan — hal-hal yang menyenangkan dan sopan yang kita katakan seorang kepada yang lain sepanjang hari, hal-hal yang terduga; faktanya adalah biasanya kita tidak memikirkan apa yang kita ucapkan pada tingkat ini.

“Semoga harimu menyenangkan.” “Aku sayang kamu.” “Hati-hati.” “Sampai ketemu lagi.” “Selamat malam.”

Pernyataan seperti ini tidak boleh dianggap sama sekali tidak berguna. Pernyataan ini positif dan benar-benar mengakui kehadiran pasangan. Ada beberapa pasangan di mana tingkat komunikasi ini akan menghasilkan perbaikan, karena mereka masuk dan keluar kehidupan satu sama lain setiap hari dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Suami saya seorang pilot. Ia pergi selama tiga hari dan di rumah selama tiga hari. Itulah jadwal kerjanya. Ia pulang sesudah tiga hari pergi, dan saya berkata kepadanya, ‘Bagaimana keadaanmu, sayang?’ Ia menjawab, ‘Baik.’ Tiga hari dan yang saya dapatkan hanya ‘Baik,’!! (Ringkasan satu kata untuk tiga hari kepergiannya tidak cukup membuat istrinya merasa dekat dengannya)

Beberapa orang tidak pernah melangkah melalui tingkat komunikasi yang pertama ini dan berbicara selama berhari-hari hanya pada tingkat ini. Mereka tidak perlu heran jika tidak intim dalam hubungan mereka.

 

Tingkat 2: Pembicaraan Reporter–

“Beri saja faktanya kepada saya.”

Percakapan pada tingkat 2 hanya melibatkan fakta: siapa, apa, kapan, dan di mana. Anda mengatakan seorang kepada yang lain apa yang telah Anda lihat dan dengar, kapan dan di mana kejadiannya, tetapi Anda tidak membagikan pendapat Anda mengenai kejadiannya.

Seorang istri berkata kepada suaminya, “Tadi pagi aku bicara dengan Myra, dan katanya Paul sakit selama enam hari. Dokter menganjurkannya ke rumah sakit hari Jumat untuk tes.” Suaminya menjawab, “Hmm.” Si istri melanjutkan, “Kata Myra suaminya mengeluh nyeri di bawah pinggang, dan sesudah enam hari istirahat di ranjang, keadaannya tidak nampak membaik.” Suaminya kembali merespons, “Hmm.” Kemudian istrinya melanjutkan melaporkan fakta tambahan atau mengganti topik, atau mungkin suaminya mengganti topik dan bertanya, “Apakah Junior menemukan anjingnya?” Dan istrinya kembali menjawab dengan fakta. Suaminya keluar dan memotong rumput.

Pada tingkat ini kita hanya berbagi fakta, tetapi tidak menawarkan apa pun dari diri kita dan tidak meminta apa pun dari pasangan–tidak ada opini tentang apa yang kita pikirkan mengenai topiknya, tidak ada ekspresi tentang bagaimana perasaan kita.

Bukan berarti tingkat komunikasi ini tidak penting; keberhasilan sebagian besar kehidupan bergantung pada jenis komunikasi ini. Informasi aktual penting. Namun, intinya adalah pasangan dengan hubungan pernikahan yang buruk biasanya dapat berbicara pada tingkat ini. Mereka hanya berbagi seorang dengan yanglain fakta yang perlu untuk melaksanakan kehidupan sehari-hari, tetapi hubungan mereka tidak lebih dari itu. Hanya sedikit keintiman intelektual, emosional, rohani, dan jasmani terbangun pada tingkat komunikasi ini.

 

Tingkat 3: Pembicaraan Intelektual

“Tahukah kamu apa yang kupikirkan?”

Kita sekarang berbagi opini, penafsiran, atau keputusan mengenai persoalan. Kita mengizinkan pasangan masuk ke dalam cara kita mengolah informasi faktual di dalam benak kita. Bagaimanakah percakapan suami dengan istrinya mengenai penyakit Paul dapat naik dari tingkat 2 ke tingkat 3? Pertimbangkanlah yang berikut ini.

Suami dapat merespons dengan mengatakan, “Tahukah kamu apa yang kupikirkan? Kupikir Paul harus menemui seorang dokter ahli tulang. Ingatkah kamu tahun lalu ketika aku mengalami masalah tulang punggung dan dokter mengatakan aku perlu menjalani traksi selama tiga hari? Aku pergi ke dokter ahli tulang, dan dengan perawatan 30 menit, aku sembuh. Aku pikir Paul perlu menemui seorang dokter ahli tulang.”

Dalam pernyataan ini, suami menyatakan sesuatu mengenai dirinya sendiri, berdasarkan pengalaman masa lalunya. Jika istrinya merespons dengan menyatakan pendapatnya, dan mungkin berdasarkan pengalamannya, ia juga mengambil satu langkah lagi menaiki anak tangga komunikasi dengan membagikan ide dan pemikirannya mengenai topik tersebut.

Jelaslah, kemungkinan konflik jauh lebih mungkin terjadi pada tingkat ini dibanding sebelumnya. Biasanya ketika orang berbicara pada tingkat ini, mereka mengantisipasi respons dari pasangannya. Jika pasangannya menjawab secara positif, mereka terus berbicara dan saling bertanya. Namun, jika sebaliknya yang dinyatakan dengan kata-kata atau ekspresi wajah (kerutan dahi, alis terangkat, mata terpicing, menguap), maka ia dengan cepat mengakhiri percakapan dan mundur ke topik yang lebih aman. Beberapa pasangan menghabiskan sedikit waktu pada tingkat 3 karena mereka tidak suka gagasan mereka ditantang atau dipertanyakan. Secara emosional, mereka terancam; jadi mereka mundur ke tingkat 1 atau 2 dan mungkin tidak pernah melangkah ke tingkat 4.

Kebutuhan akan pertumbuhan komunikasi memberi kebebasan satu sama lain untuk berpikir secara berbeda. Perbedaan seperti ini tidak perlu mempengaruhi keintiman mereka. Namun, ketika yang seorang berusaha memaksa yang lain untuk setuju dengan pendapatnya, maka keintiman menguap dan pertengkaran atau keheningan terjadi.

 

Tingkat 4: Pembicaraan Emosional

“Izinkan aku mengatakan perasaanku kepadamu.”

Pada tingkat 4 kita berbagi emosi dan perasaan kita mengenai segala sesuatu. “Aku merasa terluka, kecewa, marah, gembira, sedih, bersemangat, bosan, tidak dikasihi, romantik, atau kesepian.” Ini adalah jenis kata perasaan yang kita pakai pada tingkat ini.

Jarak antara tingkat 3 dan 4 mungkin merupakan sebuah langkah raksasa. Kita menanggung risiko jauh lebih besar ketika berkomunikasi pada tingkat ini, tetapi kita juga mempunyai potensi untuk masuk ke tingkat keintiman yang lebih tinggi. Kita semua individu yang unik. Ketika kita berbagi perasaan, kita berbagi diri kita. Jadi, dalam sebuah pernikahan, ketika kita berkomunikasi pada tingkat ini, ktia mempunyai potensi meningkatkan keintiman pernikahan.

Beberapa pasangan jarang berkomunikasi pada tingkat ini karena mereka takut emosi mereka tidak akan diterima. Ketika kita menindas perasaan kita, pasangan kita dibiarkan untuk membayangkan apa yang sedang berlangsung di dalam diri kita. Pasangan sering kali keliru menilai pasangannya sehingga kesalahpahaman terjadi.

Untuk merangsang komunikasi, kita harus mulai menerima fakta bahwa kita akan merasa secara berbeda, bahkan mengenai hal yang sama. Kita harus saling memberi kebebasan untuk merasa berbeda dan mendengarkan secara simpatik ketika pasangan mengungkapkan perasaannya. Jika kita dapat mengembangkan iklim penerimaan ini, kita akan menghabiskan semakin banyak waktu pada tingkat komunikasi yang lebih tinggi dan keintiman kita akan meningkat.

 

Tingkat 5: Pembicaraan Kebenaran yang Tulus dan Penuh Kasih

“Mari kita jujur.”

Pada tingkat ini, kita berada di puncak komunikasi. Ini adalah tempat kita dapat membangun pernikahan yang sehat dengan tingkat keintiman yang lebih tinggi. Tingkat ini memungkinkan membicarakan kebenaran dalam kasih. Di sinilah kita jujur, tetapi tidak menyalahkan, terbuka, tetapi tidak menuntut. Ini memberi setiap kita kebebasan untuk berpikir secara berbeda dan merasa secara berbeda. Daripada saling menyalahkan, kita berusaha mengerti gagasan dan perasaan pasangan kita, mencari jalan untuk tumbuh bersama walaupun ada perbedaan di antara kita.

Jika ini terdengar mudah, yakinlah bahwa kenyataannya tidak demikian. Jika ini terdengar mustahil, yakinlah bahwa tidak demikian halnya. Semakin banyak pasangan yang menemukan bahwa dengan pertolongan Tuhan, komunikasi terbuka yang penuh kasih jenis ini menghasilkan pengertian yang mendalam akan kesatuan dan keintiman di dalam pernikahan mereka. Apa yang diperlukan adalah sikap menerima.

“Apakah memang perlu untuk berbagi satu sama lain semua pikiran dan semua perasaan kita?” Jawabannya adalah tidak. Beberapa tahun yang lalu ada penekanan pada keterbukaan dan kejujuran, di mana pasangan didorong untuk berbagi semua pikiran dan perasaan dengan ide bahwa mereka akan menjadi lebih intim. Aliran pikiran itu hanya bertahan sebentar. Banyak pernikahan hancur oleh filosofi seperti ini.

Kenyataannya adalah kita semua kadang-kadang memiliki pikiran dan perasaan yang liar dan gila atau begitu negatif sehingga tidak layak dibagikan. Pikiran seperti itu hanya boleh dibagikan kepada Tuhan (2 Korintus 10:5) dan melangkah maju untuk  menghadapi hidup secara positif dengan tuntutan Tuhan.

♠♠♠

Mengembangkan kesadaran akan lima tingkat komunikasi membuka potensi untuk menolong kita meningkatkan kualitas komunikasi kita. Ketika Anda menghabiskan lebih banyak waktu pada tingkat yang lebih tinggi, Anda pun akan mengalami keintiman yang lebih besar.

 

(Sumber: “Now You’re Speaking My Language” tulisan Gary Chapman. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *