Luka Psikologis yang Disebabkan Rasa Kehilangan dan Trauma

Rasa kehilangan dan trauma adalah bagian hidup yang tidak terhindarkan, dan dampak yang mereka timbulkan seringkali begitu berat. Kehilangan orang yang kita kasihi, khususnya pada masa pandemi ini, dapat membuat kehidupan kita tergelincir sehingga meninggalkan luka psikologis yang dalam. Menyembuhkan luka-luka seperti itu biasanya membutuhkan proses penyesuaian kembali dan pemulihan yang panjang yang belum tentu sama untuk setiap orang.

Sebagian besar kehilangan dan trauma yang kita alami menggoreskan luka yang begitu dalam hingga membutuhkan keahlian dari ahli kesehatan jiwa dan mungkin juga psikoterapi yang panjang.

Bagaimanapun, banyak dari pengalaman kehilangan dan traumatis yang kita alami dalam hidup tidak terlalu parah hingga mengakibatkan kerusakan psikologis atau emosional jangka panjang, misalnya kehilangan pekerjaan, pertengkaran, atau keluarga yang meninggal. Kita melewati masa kesedihan dan penyesuaian, tapi biasanya kita kembali pada tingkat kesehatan psikologis dan jiwa seperti sebelumnya. Namun kehilangan yang sama dapat memiliki makna subjektif yang berbeda bagi tiap-tiap orang.

Berikut ini empat luka psikologis yang dapat terjadi ketika seseorang mengalami rasa kehilangan dan trauma.

Kehidupan yang Terganggu: Tekanan Emosional yang Sangat Berat

Tekanan emosional yang dialami pada hari-hari pertama sangat menyiksa dan dapat membuat kita tidak berdaya. Bagaimanapun, kesedihan merupakan respons psikologis yang wajar terhadap keadaan yang ekstrem, bukan suatu gangguan kejiwaan. Sementara kita mulai memahami kenyataan dari kehilangan atau trauma yang dialami, rasa sakit dalam hati pun mulai memudar, walaupun secara perlahan. Waktu adalah faktor yang sangat penting dalam proses pemulihan. 

Identitas yang Terganggu: Bagaimana Kehilangan dan Trauma Menantang Peran dan Jati Diri Kita

Kehilangan dan trauma seringkali memaksakan hadirnya suatu realita baru ke dalam hidup kita yang, tergantung pada tingkat keparahan peristiwa yang dialami, bisa meredefinisi sepenuhnya identitas kita, juga narasi dari kisah kehidupan kita. Mungkin kita sudah mendefinisikan diri kita lewat karier, pernikahan, kemampuan, tapi kemudian kehilangan pekerjaan, pasangan, atau kesehatan. Dalam setiap situasi ini, kita harus meluangkan waktu untuk menemukan kembali siapa kita, mencari hal-hal yang berarti, dan menemukan cara baru untuk mengungkapkan aspek-aspek dalam diri kita yang terkubur di bawah timbunan kesedihan.

Keyakinan yang Terganggu: Mengapa Kehilangan dan Trauma Menantang Persepsi Kita tentang Dunia

Keyakinan dan asumsi tentang dunia menuntun perbuatan dan keputusan kita, dan kerap memberi kita makna dan tujuan, misalnya memandang segala sesuatu yang terjadi sebagai “kehendak Tuhan”, “menuai apa yang ditabur”, atau “Segala sesuatu terjadi karena suatu alasan.” Apapun pikiran dan persepsi kita, kehilangan dan trauma dapat meragukan asumsi dasar tentang dunia dan cara kerjanya, yang justru memberi tambahan tekanan emosional yang signifikan. Perjuangan untuk memahami apa yang terjadi seringkali membuat kita terkejut dan mengalami “krisis iman”. 

Hubungan yang Terganggu: Mengapa Kita Berusaha untuk Terhubung dengan yang Masih Ada

Banyak di antara kita yang menanggapi kehilangan yang sangat berat dengan menarik diri. Namun, fase itu biasanya bersifat sementara. Pada waktunya, kita mulai membiarkan orang itu pergi dan melanjutkan hidup. Namun, sebagian dari kita terjebak dalam situasi kehilangan dengan mempertahankan gambaran yang nyata dari orang yang kita rindukan, kenangan, dan terus mencurahkan sumber emosi pada yang sudah meninggal, bukan yang masih hidup.

(Sumber: “Pertolongan Pertama pada Emosi Anda” tulisan Guy Winch, Ph,D. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Chat us for more information