Mengatasi Rasa Kecewa

Kita semua pasti pernah merasakan kekecewaan, bahkan terkadang rasa kecewa itu berlangsung cukup lama. Jika rasa kecewa itu menumpuk, tak jarang kita pun menyerah dan merasa tak lagi mampu untuk memiliki harapan atau impian.

Mengapa rasa kecewa memiliki kekuatan emosi negatif yang besar sampai seseorang menjadi putus asa?

Hal tersebut disebabkan oleh bagaimana seseorang memaknai kekecewaan. Pada kenyataannya, tidak mencapai apa yang kita harapkan atau impikan memang terasa tidak menyenangkan. Meski demikian, intensitas dalam merasakan kekecewaan itu akan diperbesar oleh pemaknaan kita akan hal itu. Makna yang Anda berikan bisa sangat bervariasi. Semua bergantung pada bagaimana Anda melihatnya. Kekecewaan bisa menghancurkan Anda atau justru menjadi kesempatan untuk sesuatu yang lebih baik.

Lalu, bagaimana cara memaknai ulang kekecewaan yang kita rasakan?

Jangan generalisasikan kekecewaan Anda

“Jika saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan kali ini, itu berarti saya tidak akan pernah mendapatkan apa yang saya inginkan.”

Jika Anda mengeneralisasikan kekecewaan dalam satu situasi ke seluruh hidup Anda, maka kekecewaan akan menyebabkan rasa sakit yang luar biasa. Sebaliknya, ingatkan diri Anda, bahwa hanya karena kali ini tidak berhasil, bukan berarti masa depan Anda juga tidak akan berhasil. Masa depan sangat dipengaruhi oleh apa yang Anda putuskan untuk dilakukan selanjutnya. Andalah yang menentukan.

Jangan menyalahkan diri sendiri

“Jika saya tidak mendapatkan apa yang saya inginkan, itu berarti saya tidak cukup baik dan tidak pantas mendapatkannya.”

Ketika Anda terlalu melihat kekecewaan sebagai kesalahan pribadi Anda, Anda membuat kekecewaan itu menentukan siapa Anda sebagai pribadi dan tidak memperhitungkan banyak faktor situasional yang tidak ada hubungannya dengan Anda. Selalu ada faktor situasional yang mempengaruhi peristiwa apapun. Selain itu, apakah suatu situasi berjalan seperti yang Anda inginkan atau tidak, tidak menentukan harga diri Anda saat itu atau di masa depan. Itu adalah satu peristiwa; dan peristiwa adalah sesuatu yang kita alami, bukan siapa diri kita.

Jangan melabeli kekecewaan sebagai hal yang buruk

Banyak orang secara otomatis berasumsi bahwa jika sesuatu yang tidak mereka inginkan terjadi pada mereka, itu adalah hal “buruk” yang kemungkinan besar akan membawa hasil yang lebih buruk di kemudian hari. Berpikir seperti ini pasti membuat Anda merasa tidak nyaman. Situasi yang mengecewakan sering kali berpotensi membuka pintu ke peristiwa baru dalam hidup kita yang memang kita inginkan. Anda tidak pernah tahu hikmah apa yang akan datang dari suatu situasi. Jadi daripada menganggap situasi yang mengecewakan itu buruk, berlatihlah berkata kepada diri sendiri: “Saya tidak bermaksud ini yang terjadi, tetapi mari kita lihat apa yang akan terjadi.”

Belajarlah dari kekecewaan

Sukses seringkali dibangun di atas kegagalan. Beberapa orang paling sukses di dunia tidak berhasil sampai mereka menghadapi banyak kekecewaan dan kegagalan terlebih dahulu.

  • Michael Jordan awalnya tidak masuk tim bola basket sekolah menengahnya.
  • The Beatles ditolak oleh tiga perusahaan rekaman berbeda sebelum akhirnya mendapatkan kontrak rekaman.

dan masih banyak lagi.

Apa yang membuat orang-orang ini berhasil adalah bahwa mereka tidak membiarkan kekecewaan karena penolakan menghalangi mereka untuk mencoba lagi. Dan yang terpenting, mereka belajar dari setiap usahanya untuk terus meningkatkan diri dan apa yang dapat mereka lakukan secara berbeda di lain waktu.

Jika Anda tidak menganggap kekecewaan sebagai hambatan, tetapi sebagai peluang untuk belajar, Anda memberdayakan diri Anda untuk tumbuh.

(Sumber: Psychology Today, “4 Ways to Recover From Life’s Disappointments” tulisan Jennice Vilhauer Ph.D.)

Chat us for more information