Menghadapi Depresi

Kita semua berhasil melalui saat-saat sulit dalam hidup ini, seperti ketika kita kesepian, tidak bisa membayar tagihan, kehilangan pekerjaan, kehilangan orang yang kita cintai. Sewaktu mengalami saat-saat seperti itu, kita bertanya-tanya bagaimana kita bisa bertahan sampai minggu berikutnya.

Kita mungkin kehilangan perspektif, dan memandang keadaan kita jauh lebih buruk daripada yang sebenarnya. Sementara itu, masa depan tampak bagaikan tambang masalah. Kita pun bertanya-tanya bagaimana manusia sanggup mengatasi kesulitan yang sedang dihadapi.

Seseorang yang hendak berjalan-jalan seharian akan tampak konyol pika membawa perbekalan untuk seumur hidup. Hal ini sama anehnya dengan orang-orang yang membawa semua kekhawatiran mereka selama 25 tahun berikutnya, lalu bertanya-tanya mengapa hidup begitu terasa begitu sulit. Kita sudah dirancang untuk hidup 24 jam sehari. Tidak lebih. Tidak ada gunanya membayangkan masala-masalah esok hari pada hari ini.

Lain kali, jika Anda putus asa, tanyakanlah pada diri Anda sendiri:

Apakah saya mendapat udara yang cukup untuk bernapas?

Apakah saya punya makanan yang cukup until hari ini?

(Jika jawabannya “Ya”, berarti semuanya sudah membaik).

Kita sering melewatkan fakta bahwa kebutuhan kita yang paling utama sudah terpenuhi.

Pertanyaan lain yang bisa kita tanyakan pada diri sendiri adalah, “Apakah hal terburuk yang mungkin terjadi? Seandainya terjadi, apakah kita masih bisa hidup?” Hal terburuk yang akan terjadi mungkin sangat tidak menyenangkan, tetapi itu bukan akhir dari segalanya.

Pertanyaan lain yang harus Anda tanyakan pada diri sendiri adalah, “Apakah saya terlalu serius dalam hal ini?” “Apa yang bisa saya pelajari dari situasi ini?” Keteguhan kita terletak pada keseimbangan diri dan kesediaan untuk mengambil hikmah dari penderitaan kita–atau memahami mengapa kita menderita.

Orang-orang yang paling bahagia cenderung selalu bisa memandang masa-masa sulit mereka sebagai pengalaman belajar yang sangat berharga.

Pertanyaan lainnya adalah, “Jika segala sesuatunya tampak begitu genting, apakah saya akan baik-baik saja 5 menit berikutnya?” Begitu Anda berhasil melewati 5 menit itu, bergeraklah ke 5 menit berikutnya. Gigihlah sedikit demi sedikit. Selain itu, sibukkanlah diri Anda.

Apa lagi yang bisa saya lakukan?

Kekhawatiran berlebihan dan sikap mengasihani diri sendiri timbul dari pikiran yang terfokus pada diri sendiri.

Kesulitan tidak akan begitu sulit jika kita mengatasinya sedikit demi sedikit. Selain itu, semakin cepat kita menyadari hikmah yang kita peroleh dari pengalaman itu, smakin mudah bagi kita untuk menghadapinya.

(Sumber: “Being Happy! Kiat Hidup Tenteram dan Bahagia” tulisan Andrew Matthews. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Chat us for more information