Apa Untungnya Menjadi KIDAL?

Menjadi kidal (aktif menggunakan tangan kiri) ternyata banyak sekali keuntungannya. Tapi kadang dianggap tidak sopan. Para orang tua pun selalu membiasakan anak menggunakan tangan kanan.

Banyak yang berpendapat bahwa penyebab kidal adalah kebiasaan, ada juga yang bilang bahwa kidal adalah keturunan. Orang menjadi kidal karena otak sebelah kanannya dominan. sehingga gerakannya lebih banyak menggunakan bagian tubuh sebelah kiri, sedangkan sebagian besar anak lebih dominan otak sebelah kiri, sehingga gerakannya lebih banyak menggunakan bagian tubuh kanan.

8 – 15% penduduk dewasa adalah kidal. Berbagai penelitian menunjukkan kidal lebih umum di kalangan laki-laki daripada perempuan. Apa saja keuntungan menjadi kidal? Menurut jurnal Neuropsychology, orang kidal lebih cepat merespons rangsangan. Menurut Dr. Nick Cherbuin, peneliti dari Australian National University, “hubungan antara otak kiri dan kanan lebih besar terhubung pada orang yang kidal”. Ini berarti orang yang kidal memiliki keuntungan dalam bidang olah raga, permainan atau kegiatan lain dimana mereka dihadapkan pada rangsangan secara serempak. Keuntungan lainnya, orang kidal bisa memproses berbagai rangsangan lebih cepat dibandingkan dengan mereka yang menggunakan tangan kanan karena secara teori orang kidal lebih mudah menggunakan kedua belahan otak untuk mengelola rangsangan.

“Berdasarkan penelitian, orang kidal lebih cepat merespons rangsangan.”

 

Otak terbagi dalam dua belahan utama, yaitu kiri dan kanan. Pengolahan bahasa pada sebagian besar orang terjadi pada belahan otak kiri, tapi untuk orang kidal kemungkinan terjadi di kedua belahan otak. Selain itu, ketika salahs atu belahan otak sudah kelebihan beban dan mulai melambat, maka belahan otak lainnya dapat lebih mudah mengisi kekosongan. Menurut para ahli, orang kidal pun akan memiliki mental yang lebih baik saat kemampuan otak sudah melambat di usia tua.

Banyak sekali tokoh dunia dan selebritis terkenal yang kidal, seperti Barrack Obama, George Bush, Bill Gates, Bill Clinton, Pangeran Charles, Pangeran William, Charlie Chaplin, Marrie Curie, dll.

 

(Sumber: “7 Trik Dahsyat Menghafal Cepat”. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Ketrampilan Seorang Pemimpin

Sikap seorang pemimpin yang baik membuat para pengikutnya dapat memercayakan diri mereka padanya. Namun seorang pemimpin perlu membuat gerak dan perubahan nyata. Karena itu, selain memiliki sikap yang tepat, ia juga membutuhkan sejumlah ketrampilan atau skill kepemimpinan.

Ketrampilan adalah kemampuan mengubah sesuatu yang ada menjadi apa yang dikehendaki sesuai dengan rencana.

Ketrampilan menyangkut pengenalan “bahan”, input, atau apa yang dapat diolah. Ketrampilan juga terkait dengan tahap-tahap pelaksanaan, pengolahan, serta bobot atau jumlah energi yang dibutuhkan, bahkan kemungkinan-kemungkinan penyimpangan dan pengecualian. Dalam bahasa Inggris, ketrampilan berkaitan dengan “make things happen”.

Ketrampilan dapat juga disebut sebagai suatu daya transformasi yang memungkinkan seorang pemimpin menjadikan apa yang tersedia menjadi sesuatu yang bermanfaat, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain.

Salahs atu ketrampilan yang paling mendasar untuk dapat memimpin dalam dunia modern adalah ketrampilan untuk mengelola hubungan dengan baik. Untuk komunitas Asia, di mana kompleksitas organisasi dan hubungan antara manusia cukup tinggi, sangat dibutuhkan ketrampilan kepemimpinan yang menghasilkan hubungan baik.

 

Untuk mendukung hal tersebut, dibutuhkan ketrampilan lain seperti berikut:

  1. Ketrampilan berkomunikasi secara interpersonal, antara lain untuk mencari data,
  2. Menciptakan sinergi dalam lingkup kerja dengan menggalang tim yang mampu bekerja sama (bukan sekedar sama-sama bekerja).
  3. Mengambil keputusan secara runtut dan logis.
  4. Mencari alternatif dan mampu berpikir dalam paradigma yang lebih luas

 

Bila ketrampilan kepemimpinan yang dimiliki seseorang seiring dengan sikap yang seharusnya, maka seorang pemimpin tidak hanya akan semakin andal dan terampil, tetapi juga lebih bijaksana.

 

(Dikutip dari buku “Bahan Bakar Sang Pemimpin” tulisan Robby Chandra. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Tiga Pilar Pencapai Sukses

Orangtua yang ingin anak-anaknya mencapai sesuatu yang disebut “keberhasilan” mungkin merasa bahwa tujuan ini bertentangan dengan hasrat mereka supaya anak-anak mereka juga menjadi bahagia. Mencapai keberhasilan, seperti yang sering diartikan oleh masyarakat kita, menekankan kekayaan serta status sosial, dan sering bertentangan dengan mengalami kepuasan, kesenangan, dan kebahagiaan.

Bimbing dan besarkan anak Anda untuk menjadi pencapai sukses. Bagi pencapai sukses, keberhasilan dan kebahagiaan merupakan hal yang sama.

Keberhasilan tanpa kebahagiaan sama sekali bukan keberhasilan.

Konsep pencapai sukses juga menyatakan bahwa bagian penting dari keberhasilan dan kebahagiaan adalah internalisasi nilai-nilai universal — rasa hormat, tenggang rasa, kebaikan, kemurahan hati, keadilan, altruisme, integritas, kejujuran, saling ketergantungan, dan bela rasa — oleh anak-anak. Anak-anak tidak bisa menjadi pencapai sukses juga mereka tidak menjalani dan berpegang pada nilai-nilai penting yang memperkaya hidup ini.

Perkembangan pencapai sukses merupakan hasil pengelolaan Tiga Pilar Pencapai Sukses.

 

Pilar Pertama: Harga Diri

Anak Anda akan mengembangkan harga diriyang tinggi dengan menerima cinta, dorongan, dan dukungan yang tepat. Tapi, anak Anda juga akan memperoleh harga diri yang besar dari rasa mampu yang ia kembangkan dari peluang yang Anda berikan kepadanya untuk mempelajari dan menggunakan berbagai ketrampilan dalam upaya mencapai sesuatu. Harga diri yang tinggi juga berperan sebagai landasan bagi kedua pilar lain yang membentuk inti pencapai sukses.

 

Pilar kedua: Kepemilikan

Anak-anak perlu memperoleh rasa kepemilikan atas minat, upaya, dan prestasi dalam hidup mereka. Kepemilikan ini berarti mereka terlibat dalam sebuah kegiatan karena kecintaan mereka pada kegiatan itu dan kerena tekad mereka sendiri untuk melakukan yang terbaik. Kepemilikan ini juga memberi mereka rasa syukur dan sukacita yang sangat besar yang semakin memotivasi mereka untuk berupaya mencapai prestasi yang lebih tinggi.

 

Pilar Ketiga: Penguasaan Emosi

Orangtua yang melindungi anak-anak dari emosi mereka sebenarnya mengganggu pertumbuhan emosi anak-anak mereka. Hanya dengan diperbolehkan mengalami berbagai emosilah maka anak-anak jadi bisa mengetahui emosi apa yang sedang mereka rasakan, apa arti emosi itu bagi mereka, dan bagaimana cara mereka bisa mengelolanya dengan efektif. Beri anak Anda peluang untuk mengalami emosi secara penuh (positif maupun negatif) dan beri mereka bimbingan untuk memahami dan menguasai kehidupan emosional mereka.

Anak-anak yang tidak berkembang secara emosional masih bisa meraih sukses, tapi mereka sering merasa tidak puas dan tidak bahagia dalam keberhasilan mereka. Penguasaan emosi tidak hanya membuat anak-anak bisa meraih sukses, tapi juga membuat mereka bisa menemukan kepuasan dan sukacita dalam upaya-upaya mereka.

 

(Diambil dari buku “Memberi Dorongan Positif pada Anak agar Anak Berhasil dalam Hidup” oleh Jim Taylor, Ph.D. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Seminar “Rethinking Sex & Homosexuality”

SEKS. Kita adalah makhluk seksual! Seks didesain Tuhan untuk rekreasi dan bukan hanya prokreasi; dinikmati dan bukan hanya mekanisme meneruskan generasi. Namun, mengapa banyak orang memiliki masalah dalam seksualitas?

Bagaimana dengan fenomena homoseksualitas yang makin marak? Mengapa homoseksualitas bisa terjadi? Genetika, pengasuhan, atau pergaulan? Apakah seorang pelaku homoseksual bisa berubah?

Apa yang harus kulakukan jika orientasi homoseksual ada dalam diriku? Bagaimana aku harus bersikap jika temanku seorang homoseksual?

Oleh karena itu, pada tanggal 6 November 2015 yang lalu, Pelma-Pusroh dan PKPP UK Petra, mengadakan acara SEMINAR “Rethinking Sex & Homosexuality” di gedung AV T 502. UK Petra, Surabaya.

IMG_2910
MC membuka acara seminar
IMG_2915
Bemby Reksura, selaku Ketua Panitia, memberikan sambutan
IMG_2942
Sesi tanya jawab

Seminar yang tersedia dalam dua pilihan jam (materi yang sama) ini dipenuhi oleh para mahasiswa, dosen, karyawan, maupun peserta dari luar UKP.

IMG_2905
Peserta memadati ruangan AVT 502

Dalam seminar ini, topik seminar dibahas dari dua sisi; Teologis dan Psikologis dengan pembicara:

Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Pembicara meraih gelar Master of Theology (Th.M.) di International Theological Seminary, Los Angeles, USA.  Saat ini mengambil program Ph.D. di Evangelische Theologische Faculteit (ETF), Leuven-Belgia.

IMG_2924
Pdt. Yakub Tri Handoko, Th.M.

Michael Christian, S.Psi., M.A.

Pembicara adalah alumnus Master of Arts in Counseling di STTRI Jakarta dan telah mengikuti pelatihan khusus di CCC Singapore. Saat ini melayani sebagai konselor penuh waktu di Lifespring untuk konseling individu, pasangan, dan keluarga.

IMG_2930
Michael Christian, S.Psi., M.A.

Menjadi Diri Sendiri yang Khas

Sudah barang tentu kita semua ingin menjadi diri yang “khas”. Setiap orang mendambakannya. Itu biasa dan amat normal. Tetapi ternyata kita telah menjadi “khas”, “khusus”! Kita adalah manusia unik. Dari sekian banyak manusia, kita adalah “istimewa”. Tak seorang pun di dunia ini pernah dan akan persis sama seperti kita. Kita tidak ada duanya.

Tetapi kita belum sempurna. Kita sedang dan masih harus berkembang. Kita masih berada dalam proses menjadi semakin “khas”, “khusus”, “istimewa”. Hal-hal yang membantu perkembangan itu ada di sekitar kita. Kita bisa memanfaatkannya untuk menjadikan diri kita “penuh”, yang paling baik dan yang unik. Kita bukan orang lain. Kita bukan tiruan manusia lain. Tetapi kita adalah kita.

Oleh karena itu, biarkanlah diri kita berkembang sekarang ini juga. Sebab waktu kini adalah kesempatan yang tak bakal terulang kembali. Kita hanya memiliki satu kehidupan. Waktunya terlalu pendek. Hari kemarin sudah berlalu. Hidup adalah hari ini, dan mengarah ke hari esok.

Jadilah diri yang khusus dengan membiarkan diri kita berkembang. Mulailah sekarang ini juga.

 

(Diambil dari “60 Cara Pengembangan Diri” tulisan Martha Mary McGaw, CSJ)

Dinamika Kelompok “Meaningful Dating”

Buat yang barusan jadian atau yang uda bertahun-tahun pacaran.. Kita tantang kalian untuk cek hubungan kalian selama ini.

Apakah kalian beneran cocok?

Apakah kalian benar-benar mengenal pasangan kalian?

Apa aja yang sudah kalian lakukan agar hubungan kalian sehat dan bahagia?

Bagaimana kalian mengatasi konflik yang muncul?

Yuk.. share sama kita. Kita akan bantu teman-teman untuk membangun sebuah hubungan yang kuat dan bermakna.

 

Bagaimana caranya?

Datang saja ke PKPP, untuk mendaftarkan diri kalian dan pasangan, untuk selanjutnya menentukan waktu pertemuan.

Karena acara ini berupa dinamika kelompok, kalian bisa juga mencari beberapa pasang teman kalian, sehingga pengaturan waktunya lebih enak.

 

Info lebih lanjut silahkan datang ke PKPP gedung D lantai 1 (D 01.11).

See you…

Success Story: Oprah Winfrey

Ia bangkit dari kegagalan debut besar pertamanya di televisi, tetapi masih dapat berpijak dengan kakinya sendiri.

Tidak seorang pun pernah menyalahkan Oprah Winfrey karena mengambil jalan keluar yang mudah. Meskipun masa kecilnya penuh dengan kerja keras, gadis muda dari Kosciusko, Mississippi itu selalu percaya bahwa ia ditakdirkan untuk menjadi orang hebat.

       Mungkin dari latar belakang kehidupannya di desa ia belajar untuk “mengubah penderitaan menjadi kebijaksanaan”, seperti yang dikatakannya kemudian. Dan penderitaan tersebut tidaklah sedikit. Ia adalah anak hasil hubungan bebas ibunya dengan seorang tukang servis yang kemudian pergi. Oprah pertama-tama diasuh oleh neneknya di peternakan babi tanpa fasilitas air ledeng. Ia akhirnya tinggal bersama ibunya, yang pindah ke Milwaukee, tempat ia pertama kali mengalami pelecehan seksual dari teman keluarga dan kerabatnya sendiri. Oprah tumbuh menjadi remaja pemberontak. Ketika ia berusia 14 tahun ia tinggal di lingkungan yang buruk dan melahirkan seorang bayi laki-laki yang meninggal pada usia satu minggu. Karena habis kesabaran, ibu Oprah mengirimnya untuk tinggal bersama ayahnya — pria yang tak pernah ia kenal.

       Di rumah ayahnyalah ia akhirnya mendapatkan disiplin yang dibutuhkannya untuk mengarahkan kecerdasannya yang menonjol. Selalu berprestasi di sekolah dan terkenal karena kemampuannya berbicara, Oprah mengikuti kontes kecantikan lokal dan ia memenangkan beasiswa di Tennessee State University. Ia mulai mempelajari komunikasi siaran dan mendapatkan kerja paruh waktu sebagai reporter di stasiun TV Nashville.

       Tiba-tiba langkah seorang anak yang pernah menjadi anak nakal itu tidak dapat dihentikan. Oprah meninggalkan bangku sekolah, pada usia yang masih muda, 19 tahun, untuk menjadi penyiar berita perempuan Afrika-Amerika pertama di Nashville. Dalam waktu tiga tahun, ia bergelut dengan hal itu dan akhirnya bekerja di sebuah stasiun di Baltimore — pangsa pasar yang lebih besar dengan gengsi dan tantangan yang lebih besar pula. Langkah itu menjadi kesalahan tak disengaja Oprah yang paling besar.

       Biasanya Oprah bersikap tenang, tetapi sekarang ia kelihatan kehabisan tenaga. Ia lupa membaca kopian naskah sebelum ia tampil di depan kamera. Ia salah mengucapkan suatu kata, menempatkan Barbados di suatu tempat di California, dan tertawa kecil di depan kamera karena kesalahan tersebut. Ia mewawancarai korban kebakaran dengan gaya “Bagaimana perasaan Anda setelah mengalami musibah ini?”, kemudian menangis di depan kamera dan meminta maaf karena mengeksploitasi emosi perempuan.

       Jika manajemen stasiun tidak tertarik dengan sikapnya di depan kamera, mereka tidak senang dengan penampilannya. Mereka mengeluh karena rambutnya terlalu mengembang, hidungnya terlalu besar, dan jarak kedua matanya terlalu jauh. Tergoda untuk membuat penampilan Oprah makin glamor, stasiun tersebut mengirim Oprah ke salon bagus di New York yang melakukan permak dengan sangat buruk, rambutnya rontok. Walaupun tidak bisa menemukan wig yang sesuai, ia tetap tampil di depan kamera.

       Dalam jangka waktu satu tahun kejayaan Oprah tiba, stasiun tersebut tidak lagi tertarik pada penemuan baru mereka. Mereka mengatakan ia tidak cocok dengan berita televisi. Untuk menghindari pemutusan kontraknya, stasiun itu memilih untuk tidak memecat Oprah dan menurunkannya dari penyiar menjadi pembawa acara talkshow bagi ibu rumah tangga di siang hari berjudul “People Are Talking”.

baltimore.cbslocal.com
baltimore.cbslocal.com

       Oprah berkata, “Kegagalan adalah cara Tuhan untuk mengingatkan ‘Anda berjalan di jalan yang salah’.” Namun ia jelas berada di jalan yang benar sekarang. Hari pertamanya di acara talkshow “Rasanya seperti bernapas lega, seperti itulah seharusnya apa yang Anda rasakan”. Acara tersebut adalah acara unggulan dan sebagian besar penontonnya adalah perempuan, yang melihat diri mereka sendiri dalam diri pembawa acara yang lugas, lucu, dan juga manusiawi.

       Tujuh tahun kemudian, acara Oprah menarik perhatian sebuah stasiun di Chicago, dan ia diminta pindah untuk memandu acara “A.M. Chicago”. Dalam jangka waktu satu bulan, ia membuat acaranya menjadi acara talkshow yang paling digemari. Pada tahun 1985, acara itu dikembangkan, diberi nama baru “The Oprah Winfrey Show”, dan ditayangkan secara nasional.

       Lebih dari 15 tahun kesuksesan yang tidak disangka-sangka, Oprah terus membagikan khususnya perjuangan dan keberhasilannya sendiri dalam forum acaranya. Meskipun telah melalui itu semua, ia menolak menyebut kegagalannya sebagai kesalahan. “Aku tidak percaya pada kegagalan,” kata Oprah. “Itu bukan kegagalan jika Anda menikmati prosesnya.”

(Diambil dari buku “30 Success Stories” tulisan Laura Fitzgerald. Tersedia di Bibliotherapy PKPP)

5 Little-Known Parenting Hacks That Take Less Than 1 Minute

As a working mother, I’m always on the lookout for simple things I can do to make life easier and more fulfilling.

Whether it’s learning that I can use a microwave to disinfect a kitchen sponge in one minute or apply baking soda to remove water stains from wood furniture, I love to find tips and tricks that save time, reduce stress, and make a small but meaningful difference in my life.

These sorts of simple tips and tricks have come to be known as “hacks.” There are life hacks, cooking hacks, decorating hacks, cleaning hacks, and so on.

With that in mind, here is my contribution:  5 parenting hacks from a developmental psychologist who specializes in parent-child relationships (but who is not a very good cook).

They all take less than 1 minute to do, but have powerful and often immediate results.

These parenting hacks, based on my work with thousands of moms and dads in my parenting classes (link is external), can help you sidestep power struggles and encourage kids to listen and cooperate, while also improving your relationship with them.

1. Pivot

Pivoting is the art of saying ‘yes’ instead of ‘no’, and meaning the same thing.

So instead of saying: “No, we can’t go to the park until after you have a nap,” pivot and say: “Yes, we can go to the park as soon as you’re done with your nap.”  Or:  “Yes, you can borrow the car as soon as you finish your homework.”

The message is the same, but the tone is completely different, and saying “yes” gives kids a lot less to argue with.

2. Reframe

Reframing is engaging kids’ imagination and sense of play in order to create the behavior you would like to see. A fascinating study of four-year-olds shows the power of this strategy.

In the study, the researchers first asked the kids to stand still for as long as they could. The kids didn’t last very long: usually less than a minute. Then the researchers asked the kids to pretend that they were guards at a factory. Now, the kids were able to stand still almost four times as long. Why? Because they were imaginatively engaged in the activity.

You will also see reframing at work in many preschools when everyone sings the “clean-up song” while the kids put away toys and organize the room.

3. Give a reason

In our busy lives as parents, we may not even notice ourselves barking out “do’s” and “don’ts” to our kids: “Get your shoes on now,” “Turn off the computer,” “Stop that,” and so on. Then we get frustrated when they ignore us or resist doing what we’ve asked.

Here we have the beginnings of a power struggle. But we may be able to sidestep it if we help kids understand why we are asking (that is, give them a reason).

(Note: “Because I said so” is not a reason–and will probably lead to more power struggles or secrecy).

For example: “Please go get your shoes on now. We have to leave in one minute or we’ll be late to pick up your friends and that would not be nice manners.”

This strategy will not guarantee immediate compliance with your requests, but it will show your kids that you are making reasonable requests and also models the importance of using good reasons to motivate behavior.

4. Empathize

Empathy, as I’ve previously written, is the most powerful tool we have as parents.

When we practice empathy with our kids, we show respect for their feelings and their reality (which are often different from ours).  We show that we are listening, and that we understand–or are trying to understand–their point of view.

When you don’t know to do in a situation, practice empathy. When you have to insist on something or follow through on consequences, practice empathy.

For example: “Sweetie, I know you don’t want to wear your seatbelt. It feels itchy to you. You wish you didn’t have to wear it (empathy).”

Please note that practicing empathy does not oblige you to change or fix anything about the situation. This is an important distinction.  You can empathize with your son’s frustration at having to wear a seatbelt without the need to take it off.

5.  Avoid saying “But”

After all of that empathizing to create connection with your kids (see #4 above), don’t negate it by saying “But…”

As in:  “I know you don’t want to wear your seatbelt, but it keeps you safe so you have to do it.”

Instead, keep the connection you established through empathy by conveying that kids’ feelings are important even when they can’t be honored.

How?  Say “At the same time” rather than “But.”  As in:  “Sweetie, I know you don’t want to wear your seatbelt.  At the same time, the seatbelt keeps you safe in the car so we all wear seatbelts when we drive somewhere (give a reason).”

Note: This parenting hack, plus #4 above, work on people of all ages (including your spouse and/or coworkers).

© 2015, Erica Reischer Ph.D.  (link is external)Twitter: @DrEricaR (link is external)

(https://www.psychologytoday.com/blog/what-great-parents-do/201509/5-little-known-parenting-hacks-take-less-1-minute)

Memahami Kleptomania

Apa itu kleptomania?
Istilah ini berasal dari bahasa Yunani “klepto” dan “mania”.
“mania” = kegilaan atau kegemaran yang berlebihan
“klepto” = mencuri
Sederhananya, kleptomania dapat diartikan sebagai kegemaran untuk mencuri. Ini merupakan penyakit jiwa yang membuat penderitanya tidak bisa menahan diri atau tidak memiliki kemampuan untuk menguasai dorongan mencuri.

 

kleptomania-2

 

Hal-hal yang perlu kita ketahui tentang kleptomania:
1. Ia tidak memiliki rencana mencuri.
Ia mencuri karena hasrat/dorongan yang tiba-tiba muncul dari dalam dirinya, yang sulit atau tidak mampu dikuasainya.

2. Mencuri bukan karena nilai kegunaan atau jumlah harga dari barang yang diambil.
Seringkali setelah ia mencuri barang, ia akan membuang atau memberikannya pada orang lain. Jadi, ia mencuri murni karena dorongan yang tidak dapat dikuasainya.

3. Sebelum mengambil barang, ia akan merasa tegang, resah, tidak tenang.
Ada satu perasaan butuh yang sangat dalam seperti kecanduan narkoba, di mana perasaan itu akan hilang setelah ia mengambil barang tersebut.

4. Kepuasannya terletak sewaktu ia mengambil tanpa sepengetahuan pemiliknya.

5. Tidak ada kaitan dengan emosi penderitanya, misalnya mencuri karena marah/balas dendam. Penderita kleptomania tetap bisa melakukan pencurian sewaktu ia sedang bergurau dengan orang lain.

6. Bisa terjadi kapan saja dan di mana saja dan dapat muncul untuk satu kurun waktu tertentu.

7. Dapat menyerang siapapun, termasuk orang yang sangat rohani.

8. Sulit untuk mengidentifikasi ciri-ciri penderita kleptomania.

 

Apa yang menyebabkan kleptomania?
Ini pun masih sulit diidentifikasikan. Bisa jadi karena peristiwa yang pernah terjadi di masa kecilnya, lingkungan sekitar, atau karena dari dalam dirinya sendiri. Penyebab pastinya masih sangat sulit untuk diketahui.

 

klepto2

 

Bila kita mengetahui ada teman atau orang terdekat yang menderita kleptomania, hal-hal apa saja yang dapat kita lakukan?
1. Mendorong si penderita untuk mengakui perbuatan mencurinya secara terbuka.
Mengapa? Karena segala hal/masalah yang berkaitan dengan penguasaan diri akan lebih cenderung terjadi lagi bila masalah itu disembunyikan.
2. Mendorong si penderita untuk membentuk sebuah tim.
Berkaitan dengan poin 1. Ia harus membuka diri kepada orang-orang yang dapat dipercaya dan  berintegritas. Tim ini harus memiliki kemauan dan kesabaran yang besar untuk mendukung, mengecek, memantau, dan memastikan si penderita tidak mengambil barang lagi.
3. Mendorong si penderita untuk mengakui ketidakmampuannya di hadapan Tuhan dan memohon  pertolongan-Nya.
4. Mendorong si penderita untuk lari dari pencobaan.
Jika si penderita mulai merasa dorongan untuk mencuri muncul, maka ia tidak boleh berpikir apa-apa selain meletakkan barang, keluar dari toko, dan benar-benar menjauhi tempat itu sejauh mungkin.
5. Membantu penderita mempertahankan kehidupan batiniah yang tentram dan tenang.
Keresahan atau kecemasan justru akan memperbesar kemungkinan ia mengulangi perbuatannya. Oleh karena itu ia harus menjaga emosinya dan tidak merasa tegang.

 

(Sumber: “Memahami Kleptomania” tulisan Paul Gunadi)