Tiga Gejala Depresi

Belakangan ini, kita melihat dan mendengar berita mengejutkan sekaligus mengerikan mengenai seorang ibu yang tega membunuh bahkan memutilasi anaknya yang masih balita. Hal tersebut benar-benar di luar akal sehat. Bagaimana mungkin seorang ibu tega melakukan hal tersebut? Diduga ibu tersebut mengalami depresi berat.

Salah satu musuh terbesar dalam hidup adalah depresi. Ada saat-saat ketika depresi menguasai kita dan sepenuhnya menyingkirkan kemampuan untuk menikmati hidup. Ada juga saat-saat ketika depresi mengikat akal sehat kita begitu kuat sampai-sampai kita merasa hidup ini tidak tertanggungkan. Pada saat-saat seperti ini, beberapa orang telah berpikir untuk mati saja.

Depresi tidak memilih korbannya. Depresi dapat menghantam siapa saja, kapan saja. Lalu apa saja gejala seseorang mengalami depresi?

 

1. KEADAAN TANPA DAYA

Kebanyakan kasus depresi berhubungan dengan beberapa bentuk stres atau tekanan fisik dan emosi. Seseorang yang merasa tidak berdaya, dicontohkan dengan perasaan “cukuplah itu.” Kita harus waspada. Kita tidak dapat mengambil lebih dari apa yang mampu kita kunyah, khususnya jika kita memiliki kepribadian yang melankolis. Keletihan fisik, emosi, bahkan spiritual dapat membuat suasana hati kita enggan untuk mengerjakan tugas yang paling kita inginkan. Ada juga alasan biofisika yang menyebabkan depresi. Beberapa dikarenakan ketidakseimbangan kimia, kurang gizi, atau bahkan kurang tidur.

 

2. MENTALITAS YANG MEMATIKAN

Dalam keadaan tertekan dan stres luar biasa, kematian sepertinya menjadi jalan keluar terbaik. Itulah dusta iblis! Kematian tidak mengakhiri segalanya. Kematian bukanlah jalan keluar. Kehidupan adalah anugrah suci dari Allah dan tidak seorang pun berhak mengambilnya. Orang-orang yang sedang depresi sering berniat bunuh diri karena tidak ada seorang pun yang merasa terusik atau mampu merespons isyarat permintaan tolong mereka. Apa yang dicari oleh orang depresi adalah orang yang berbelas kasih, bersedia mendengar, dan membiarkan diri untuk merasakan apa yang sedang mereka rasakan.

3. PANDANGAN YANG BERUBAH

Orang yang depresi cenderung memiliki pandangan yang berubah. Ketika seseorang sedang jatuh, pusat perhatiannya beralih dari yang riil ke rasa, dari Allah ke diri sendiri. Dengan kata lain, sikap mengasihani diri sendiri menang! Apa yang kita lihat tergantung pada siapa kita. Jika ragu, kita akan melihat bahwa tak ada harapan. Jika percaya, kita akan melihat potensi besar.

(Sumber: “Managing Your Emotions” tulisan Benny Ho. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)