Biarkan Kesendirian Membantu Mengatasi Kesepian Anda

Ada kalanya kita merasakan keramahan, simpati, dan mendapatkan hiburan dari orang lain. Namun ada kalanya pula kita harus sendirian tanpa teman. Dalam zaman modern yang semakin ramai seperti sekarang ini, orang menjadi semakin takut bila harus sendirian, sehingga tidak mengherankan bila banyak yang melarikan diri dalam keramaian atau mengikuti suatu perkumpulan hanya sekedar untuk menghindari kesendirian.

Memang kesendirian dapat membuat kita dicengkam oleh rasa kesepian. Namun apabila kita menerima kesendirian sebagai fakta yang tak dapat dihindari, kemudia berusaha memanfaatkannya, maka kesendirian dapat menjadi saat yang produktif dan kreatif, serta banyak maknanya bagi kehidupan kita.

 

Saat untuk Lebih Mengenal Diri Sendiri

Kalau kita sendirian, kita mempunyai kesempatan untuk berhadapan dengan diri kita sendiri dalam keheningan, sehingga saat semacam itu dapat merupakan saat untuk lebih mengenal diri sendiri, untuk melihat kekuatan dan kelemahan kita, menemukan hal-hal baru dalam diri kita ataupun menemukan kemampuan-kemampuan yang selama ini terpendam, dan juga merupakan kesempatan untuk membuat rencana pengembangan diri. Dengan demikian kita juga punya kesempatan untuk belajar mencintai diri sendiri dan merasa bahagia dengan diri kita sendiri.

 

Saat untuk Memperoleh Kekuatan Batin

Memang apabila orang dapat mengubah kesendirian menjadi suatu keheningan yang konstruktif, maka kesendirian akan dapat membantu kita memperoleh kekuatan batin kembali. Kita akan menemukan hal-hal baru dalam diri kita, dan kehendak Tuhan terhadap diri kita menjadi semakin jelas.

 

Saat untuk Berkreasi

Seni budaya dan ilmu pengetahuan tidak tercipta di tengah keramaian, tetapi di dalam kesunyian. Hanya dalam kesendirian orang dapat mengembangkan ide-ide yang muncul dalam pikirannya. Kalau kita terpaksa harus tinggal sendirian dan merasa bahwa tidak ada ide-ide yang dapat dikembangkan, hobi pun dapat membantu kita memanfaatkan kesendirian secara kreatif.

 

Jadi, kesendirian dapat menjadi kesepian atau tidak, itu tergantung dari diri kita sendiri, kita bisa memanfaatkan kesendirian itu atau tidak. Maka salah satu cara mengatasi rasa kesepian adalah belajar memanfaatkan kesendirian, sehingga kita dapat tinggal sendirian tanpa merasa kesepian.

 

(“Mengatasi Rasa Kesepian” tulisan Florence Wedge)

Tiga Gejala Depresi

Belakangan ini, kita melihat dan mendengar berita mengejutkan sekaligus mengerikan mengenai seorang ibu yang tega membunuh bahkan memutilasi anaknya yang masih balita. Hal tersebut benar-benar di luar akal sehat. Bagaimana mungkin seorang ibu tega melakukan hal tersebut? Diduga ibu tersebut mengalami depresi berat.

Salah satu musuh terbesar dalam hidup adalah depresi. Ada saat-saat ketika depresi menguasai kita dan sepenuhnya menyingkirkan kemampuan untuk menikmati hidup. Ada juga saat-saat ketika depresi mengikat akal sehat kita begitu kuat sampai-sampai kita merasa hidup ini tidak tertanggungkan. Pada saat-saat seperti ini, beberapa orang telah berpikir untuk mati saja.

Depresi tidak memilih korbannya. Depresi dapat menghantam siapa saja, kapan saja. Lalu apa saja gejala seseorang mengalami depresi?

 

1. KEADAAN TANPA DAYA

Kebanyakan kasus depresi berhubungan dengan beberapa bentuk stres atau tekanan fisik dan emosi. Seseorang yang merasa tidak berdaya, dicontohkan dengan perasaan “cukuplah itu.” Kita harus waspada. Kita tidak dapat mengambil lebih dari apa yang mampu kita kunyah, khususnya jika kita memiliki kepribadian yang melankolis. Keletihan fisik, emosi, bahkan spiritual dapat membuat suasana hati kita enggan untuk mengerjakan tugas yang paling kita inginkan. Ada juga alasan biofisika yang menyebabkan depresi. Beberapa dikarenakan ketidakseimbangan kimia, kurang gizi, atau bahkan kurang tidur.

 

2. MENTALITAS YANG MEMATIKAN

Dalam keadaan tertekan dan stres luar biasa, kematian sepertinya menjadi jalan keluar terbaik. Itulah dusta iblis! Kematian tidak mengakhiri segalanya. Kematian bukanlah jalan keluar. Kehidupan adalah anugrah suci dari Allah dan tidak seorang pun berhak mengambilnya. Orang-orang yang sedang depresi sering berniat bunuh diri karena tidak ada seorang pun yang merasa terusik atau mampu merespons isyarat permintaan tolong mereka. Apa yang dicari oleh orang depresi adalah orang yang berbelas kasih, bersedia mendengar, dan membiarkan diri untuk merasakan apa yang sedang mereka rasakan.

3. PANDANGAN YANG BERUBAH

Orang yang depresi cenderung memiliki pandangan yang berubah. Ketika seseorang sedang jatuh, pusat perhatiannya beralih dari yang riil ke rasa, dari Allah ke diri sendiri. Dengan kata lain, sikap mengasihani diri sendiri menang! Apa yang kita lihat tergantung pada siapa kita. Jika ragu, kita akan melihat bahwa tak ada harapan. Jika percaya, kita akan melihat potensi besar.

(Sumber: “Managing Your Emotions” tulisan Benny Ho. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Mengubah citra diri adalah hal yang sulit. Perilaku citra diri yang buruk selalu muncul. Pada saat memasuki jalur perbaikan diri, kita masih cenderung mempertahankan pola-pola lama, seperti menyalahkan diri sendiri, memendam rasa bersalah, dan menjelek-jelekkan diri sendiri.

Ada beberapa saran yang bisa Anda gunakan untuk memacu peningkatan citra diri Anda.

 

TERIMALAH PUJIAN — Selalu ucapkan terima kasih atau kata-kata lain yang sejenis.

BERIKAN PUJIAN — Salah satu cara termudah untuk merasa senang tentang diri sendiri adalah dengan mengenali kebaikan dalam diri orang lain.

KEMUKAKAN SEGI POSITIF DIRI ANDA — jika Anda tidak mempunyai suatu hal yang positif tentang diri Anda untuk Anda kemukakan, jangan berkata apa-apa!

PUJILAH DIRI SENDIRI — saat Anda melakukan sesuatu dengan benar, pujilah diri Anda sendiri. Kenalilah harga diri Anda sendiri.

PISAHKAN PERILAKU ANDA DARI DIRI ANDA — sadarilah bahwa perilaku Anda tidak berkaitan dengan harga diri Anda. Jika Anda melakukan hal yang konyol, seperti menabrak mobil orang lain, itu tidak berarti Anda orang yang jahat. Anda semata-mata melakukan kesalahan. (Cintailah pendosa, bencilah dosanya.)

PERLAKUKAN TUBUH ANDA DENGAN BAIK — hanya itulah milik Anda satu-satunya. Apa pun yang kita lakukan akan mempengaruhi orang lain. Latih dan peliharalah tubuh Anda.

BIARKAN ORANG TAHU TENTANG PERLAKUAN YANG ANDA HARAPKAN — khususnya, beri contoh bagaimana Anda memperlakukan diri Anda dan mereka. Tidak seorang pun layak menerima perlakuan buruk dari orang lain!

BERGAULAH DENGAN ORANG YANG BAIK

NIKMATILAH KESENANGAN TANPA HARUS MERASA BERSALAH

GUNAKAN PENEGASAN

BACALAH BUKU-BUKU YANG MEMBANGKITKAN IDE DAN INSPIRASI

SELALU BAYANGKAN ANDA MENJADI SESEORANG YANG ANDA INGINKAN, BUKAN MEMBAYANGKAN KEADAAN ANDA SEKARANG. ANDA AKAN CENDERUNG BERGERAK KE ARAH PIKIRAN YANG MENDOMINASI ANDA.

 

(Diambil dari buku “Being Happy!” tulisan Andrew Matthews. Buku tersedia di bibliotherapy PKPP)

Menghilangkan Kebiasaan Buruk

Kebiasaan merupakan suatu tindakan atau sikap yang selalu dilakukan dengan cara yang sama, bila orang berhadapan dengan kondisi yang sama. Kondisi tertentu akan membuat orang bereaksi atau bertindak tertentu juga. Maka kalau kondisi tertentu itu sering dihadapi, dengan sendirinya orang yang bersangkutan mengulang-ulang tindakan yang tertentu juga, sehingga menjadi terbiasa dan menjadi semacam cara hidup. Karena terbentuknya kebiasaan tersebut lewat pengulangan-pengulangan, maka tindakan yang sudah menjadi kebiasaan dapat dilakukan dengan cepat dan mudah, tanpa harus banyak berpikir.

Kita semua mempunyai kebiasaan baik maupun buruk yang tidak muncul dengan tiba-tiba. Semua kebiasaan merupakan akibat dari pengulangan-pengulangan. Semakin banyak kita mengulangi tindakan yang sama, semakin tindakan itu mengakar dalam diri kita. Itulah sebabnya mengapa kebiasaan yang sudah mengakar menjadi sulit dihilangkan.

Kebiasaan-kebiasaan buruk yang kita miliki dapat menghambat pergaulan kita dengan orang lain, membuat kita dijauhi, dan dapat mengakibatkan berbagai macam gangguan mental. Maka kalau kita ingin merasakan kebahagiaan dalam hidup ini, kita harus berani memerangi kebiasaan buruk yang ada pada diri kita.

 

Memiliki Motivasi yang Kuat

Agar kita dapat memiliki motivasi yang kuat dan tahan terhadap tekanan-tekanan, perlu kita tanyakan pada diri kita sendiri, mengapa kita ingin menghilangkan kebiasaan buruk kita. Kemudian buat daftar alasan-alasan yang memperkuat motivasi kita. Motivasi yang kuat akan memperkeras kemauan kita, membuat kita pantang menyerah dan dengan tekun memperjuangkan apa yang kita inginkan.

Memiliki Kemauan yang Keras

Motivasi yang kuat belum cukup kalau belum dapat menimbulkan kemauan yang keras atau kehendak yang kuat. Kemauan yang keras dibutuhkan tidak hanya untuk memulai saja, tetapi lebih-lebih untuk kelangsungan usaha memerangi kebiasaan buruk itu sendiri. Usaha untuk menghilangkannya akan banyak menghadapi hambatan dan godaan, mungkin kita harus jatuh-bangun, dan harus tetap berjuang terus tanpa kenal menyerah. Usaha semacam itu tidak mungkin berhasil tanpa motivasi dan kehendak yang kuat.

Hentikan Sama Sekali

Setelah memiliki motivasi dan kehendak yang kuat, kita harus menentukan strategi mana yang akan kita pakai untuk memerangi kebiasaan buruk kita. Apakah kita akan menguranginya sedikit demi sedikit, atau menghentikannya sama sekali? Apabila kebiasaan buruk itu merupakan dosa, maka tidak bisa dihilangkan sedikit demi sedikit, harus dihentikan sama sekali.

Hilangkan Satu per Satu

Kalau kita sekaligus ingin menghilangkan banyak kebiasaan buruk yang kita miliki, pasti akan mengalami kegagalan. Sebaiknya kita buat dulu daftar kebiasaan-kebiasaan buruk mana yang ingin dihilangkan. Lalu pilih salah satu dan rincikan kebiasaan buruk mana yang ingin kita hilangkan lebih dulu, mengapa, apa yang akan kita lakukan, kapan mulai, dsb. Setelah satu kebiasaan buruk dapat dihilangkan, lalu pilih salah satu kebiasaan buruk lain dari daftar kita, begitu seterusnya.

Memberikan Hukuman dan Pujian

Hukuman membuat orang berpikir dua kali sebelum melakukan perbuatan yang tidak baik. Sedang pujian yang diberikan apabila orang berhasil mengalahkan kebiasaan buruknya, akan memperkuat usahanya untuk tetap berjuang melawan kebiasaan buruk yang ia miliki.

 

Kalau kita hanya berjuang mati-matian untuk menghilangkan kebiasaan buruk saja, mungkin usaha kita akan menjadi kurang efektif dan kepribadian kita kurang berkembang. Maka usaha itu harus dibarengi dengan usaha mengembangkan kebiasaan yang baik.

Kapan Mulai?

Saat paling baik adalah pada awal masa kanak-kanak, di mana masih mudah sekali dibentuk. Lalu bagaimana dengan kita yang sudah menjadi orang dewasa? Kita masih mempunyai waktu untuk memperbaiki diri dan mengembangkan kebiasaan yang baik. Sekaranglah saatnya. Jangan menunda sampai nanti atau tahun depan.

Bagaimana caranya?

Pertama-tama harus kita rumuskan kebiasaan baik apa yang akan kita kembangkan, sekonkrit mungkin. Pilih yang dapat kita lakukan dengan motif dan kehendak yang kuat. Jangan mulai dengan banyak kebiasaan baik sekaligus dan berikan diri kita hukuman kalau gagal atau pujian kalau berhasil. Kita harus mempraktekkannya dalam setiap kesempatan yang ada dari hari ke hari. Dengan demikian, lama-kelamaan kebiasaan baik tersebut akan mengakar dalam diri kita. Meskipun demikian, mengembangkan kebiasaan baik tidak bisa hanya usaha kita sendiri, tetapi juga merupakan bantuan Tuhan. Tanpa Tuhan, kita menjadi tidak berdaya dan tanpa usaha kita pun bantuan Tuhan menjadi sia-sia.

 

KEMANA MENCARI BANTUAN?

Kita tidak harus berjuang sendirian. Mintalah bantuan pada sahabat dekat, keluarga, atau orang lain yang dapat kita percayai, misalnya konselor. Mereka pasti bersedia membantu kita, asalkan kita mau terbuka pada mereka.

 

We Care, So We Share..

 

(Artikel diambil dari buku “Menghilangkan Kebiasaan Buruk” tulisan Florence Wedge. Buku tersedia di bibliotherapy PKPP)

 

Ketika Orangtuamu Tidak Menyukai Pacarmu

Kamu sudah berpacaran dengan seseorang hampir satu bulan. Tiba-tiba, pada suatu makan malam, orangtuamu berkata, “Nak, kami pikir dia bukan seseorang yang tepat buatmu. Kami ingin kamu berhenti menemuinya.”

Apa yang akan kamu lakukan?

Mungkin kamu ingin berteriak kepada orangtuamu dan protes. Atau kamu akan duduk dalam posisi “shock” selama tiga jam penuh tidak mampu bergerak. Atau kamu akan pura-pura mendadak tuli, dengan tenang menghabiskan makan malamu. Atau kamu akan menangis histeris; begitu histerisnya sampai kamu meracau. Atau melakukan hal-hal lain?

Meskipun kamu merasa mengenal pacarmu lebih baik dari mereka (bagaimanapun juga, kamulah yang pacaran dengannya kan?), intinya adalah bahwa Allah ingin kamu menaati orangtuamu (baca Efesus 6:1; Kolose 3:20).

 

Sekalipun mereka tidak masuk akal?

Ya, sekalipun demikian. Pengecualiannya adalah seandainya ibu atau ayahmu menyuruhmu untuk melanggar hukum.

 

Baik, LALU apa yang selanjutnya kulakukan?

Jawaban: Taatilah mereka.

Kamu mungkin berpikir bahwa di dunia ini kamu memiliki hak untuk menentang mereka, “lakukan apa maumu, berdebat, dan menjerit sampai mereka tidak kuat mendengarnya dan memberikannya — tapi, coba tebak? Sesungguhnya kamu tidak memiliki hak apa pun.

Jika kamu serius bahwa Allah menjadi yang nomor satu, hakmu menjadi hak-Nya. Dengan kata lain, Ia memiliki hakmu. Bapa di Surga mengetahui minat terdalam hati kita, Ia telah menciptakan sebuah struktur bagi kita untuk hidup di dalamnya. Struktur itu adalah:

TUHAN

Ibu dan ayah

anak-anak

(Allah berada di puncak karena Ialah yang memikirkan semuanya dan karena Ia Mahakuasa dan berkuasa atas segalanya)

 

Jadi, sekalipun kamu tidak setuju dengan apa yang dikatakan orangtuamu, Allah masih memerintahmu untuk menghormati dan mematuhi mereka karena mereka berkuasa atas dirimu. Kadang-kadang, mereka akan membuat kesalahan. Ketika mereka melakukannya, teruslah mengasihi mereka, berdoa untuk mereka dan menaati mereka. Sementara kamu mematuhi mereka, namun tidak setuju dengan keputusan mereka, berdoalah bagi mereka.

 

Jalan Tuhan adalah yang terbaik. ketika tampaknya berat dan tidak masuk akal, PERCAYALAH KEPADANYA. Jika memang kehendak Tuhan, kamu dan pacarmu bersatu, Ia cukup berkuasa untuk melakukannya.

 

Tapi bagaimana kalau orangtuaku bukan Kristen? Dan, mereka tidak mau berdoa tentang hal itu?

Menurutmu, apa yang akan menjadi kesaksian yang lebih besar dari mereka? Mereka akan melihat Yesus melalui tindakanmu. Jadi, tidak masalah kalau ayah dan ibumu Kristen atau bukan. Allah masih saja cukup berkuasa untuk melakukannya. Kehendak-Nya pasti akan terjadi!

 

(Sumber: “Love Sex & Dating” tulisan Greg Johnson & Susie Shellenberger. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

‘Small Talk’: Boost Up Your Self-Confidence!

Guys, tau ga sih? Kurang pede tuh bisa berdampak besar bagi hidup seseorang disadari ato tidak..

  • Selalu melihat yang buruk… sulit melihat sisi positif diri
  • Gak nyaman… canggung sewaktu berteman.. bahkan akhirnya menghindari pergaulan
  • Mimpi dan segala potensi diri pun akhirnya jadi terhambat juga…

Nah.. pingin meningkatkan rasa percaya diri?

Yuk gabung di acara ‘small talk’ di PKPP. Pilih tanggal yang ada atau tentukan sendiri waktu yang sesuai trus daftar deh!

Acara yang santai tapi bermanfaat besar untuk membangun percaya diri kamu.

 

We Care, So We Share

Lima Tingkat Komunikasi

Seperti halnya bermanfaat mengenali pola komunikasi tertentu, juga akan bermanfaat jika kita mengerti berbagai tingkat komunikasi yang ada. Semua komunikasi tidka sama dalam hal nilai. Beberapa tingkat komunikasi membantu bertumbuhnya keintiman yang lebih besar dibandingkan yang lain. Kita pasti berkomunikasi pada kelima tingkat, tetapi dalam hubungan pernikahan kita ingin menghabiskan lebih banyak waktu pada tingkat yang lebih tinggi.

Di sini, kita akan membahas lima tingkat komunikasi supaya Anda akan mampu mengenali tingkat Anda di dalam percakapan apa pun. Dengan informasi ini, Anda dapat menaikkan tingkat komunikasi dengan pasangan Anda dan dengan demikian membangun keintiman yang lebih besar. Gambaran kelima tingkat tersebut seperti lima anak tangga naik yang membawa ke panggung yang besar di mana akan ada komunikasi yang bebas dan terbuka.

 

Tingkat 1: Pembicaraan Lorong–

“Baik, bagaimana kabar Anda?”

Tingkat komunikasi ini dangkal, tapi kita semua banyak berkomunikasi pada tingkat ini. Tingkat 1 melibatkan percakapan permukaan — hal-hal yang menyenangkan dan sopan yang kita katakan seorang kepada yang lain sepanjang hari, hal-hal yang terduga; faktanya adalah biasanya kita tidak memikirkan apa yang kita ucapkan pada tingkat ini.

“Semoga harimu menyenangkan.” “Aku sayang kamu.” “Hati-hati.” “Sampai ketemu lagi.” “Selamat malam.”

Pernyataan seperti ini tidak boleh dianggap sama sekali tidak berguna. Pernyataan ini positif dan benar-benar mengakui kehadiran pasangan. Ada beberapa pasangan di mana tingkat komunikasi ini akan menghasilkan perbaikan, karena mereka masuk dan keluar kehidupan satu sama lain setiap hari dan tidak mengucapkan sepatah kata pun.

Suami saya seorang pilot. Ia pergi selama tiga hari dan di rumah selama tiga hari. Itulah jadwal kerjanya. Ia pulang sesudah tiga hari pergi, dan saya berkata kepadanya, ‘Bagaimana keadaanmu, sayang?’ Ia menjawab, ‘Baik.’ Tiga hari dan yang saya dapatkan hanya ‘Baik,’!! (Ringkasan satu kata untuk tiga hari kepergiannya tidak cukup membuat istrinya merasa dekat dengannya)

Beberapa orang tidak pernah melangkah melalui tingkat komunikasi yang pertama ini dan berbicara selama berhari-hari hanya pada tingkat ini. Mereka tidak perlu heran jika tidak intim dalam hubungan mereka.

 

Tingkat 2: Pembicaraan Reporter–

“Beri saja faktanya kepada saya.”

Percakapan pada tingkat 2 hanya melibatkan fakta: siapa, apa, kapan, dan di mana. Anda mengatakan seorang kepada yang lain apa yang telah Anda lihat dan dengar, kapan dan di mana kejadiannya, tetapi Anda tidak membagikan pendapat Anda mengenai kejadiannya.

Seorang istri berkata kepada suaminya, “Tadi pagi aku bicara dengan Myra, dan katanya Paul sakit selama enam hari. Dokter menganjurkannya ke rumah sakit hari Jumat untuk tes.” Suaminya menjawab, “Hmm.” Si istri melanjutkan, “Kata Myra suaminya mengeluh nyeri di bawah pinggang, dan sesudah enam hari istirahat di ranjang, keadaannya tidak nampak membaik.” Suaminya kembali merespons, “Hmm.” Kemudian istrinya melanjutkan melaporkan fakta tambahan atau mengganti topik, atau mungkin suaminya mengganti topik dan bertanya, “Apakah Junior menemukan anjingnya?” Dan istrinya kembali menjawab dengan fakta. Suaminya keluar dan memotong rumput.

Pada tingkat ini kita hanya berbagi fakta, tetapi tidak menawarkan apa pun dari diri kita dan tidak meminta apa pun dari pasangan–tidak ada opini tentang apa yang kita pikirkan mengenai topiknya, tidak ada ekspresi tentang bagaimana perasaan kita.

Bukan berarti tingkat komunikasi ini tidak penting; keberhasilan sebagian besar kehidupan bergantung pada jenis komunikasi ini. Informasi aktual penting. Namun, intinya adalah pasangan dengan hubungan pernikahan yang buruk biasanya dapat berbicara pada tingkat ini. Mereka hanya berbagi seorang dengan yanglain fakta yang perlu untuk melaksanakan kehidupan sehari-hari, tetapi hubungan mereka tidak lebih dari itu. Hanya sedikit keintiman intelektual, emosional, rohani, dan jasmani terbangun pada tingkat komunikasi ini.

 

Tingkat 3: Pembicaraan Intelektual

“Tahukah kamu apa yang kupikirkan?”

Kita sekarang berbagi opini, penafsiran, atau keputusan mengenai persoalan. Kita mengizinkan pasangan masuk ke dalam cara kita mengolah informasi faktual di dalam benak kita. Bagaimanakah percakapan suami dengan istrinya mengenai penyakit Paul dapat naik dari tingkat 2 ke tingkat 3? Pertimbangkanlah yang berikut ini.

Suami dapat merespons dengan mengatakan, “Tahukah kamu apa yang kupikirkan? Kupikir Paul harus menemui seorang dokter ahli tulang. Ingatkah kamu tahun lalu ketika aku mengalami masalah tulang punggung dan dokter mengatakan aku perlu menjalani traksi selama tiga hari? Aku pergi ke dokter ahli tulang, dan dengan perawatan 30 menit, aku sembuh. Aku pikir Paul perlu menemui seorang dokter ahli tulang.”

Dalam pernyataan ini, suami menyatakan sesuatu mengenai dirinya sendiri, berdasarkan pengalaman masa lalunya. Jika istrinya merespons dengan menyatakan pendapatnya, dan mungkin berdasarkan pengalamannya, ia juga mengambil satu langkah lagi menaiki anak tangga komunikasi dengan membagikan ide dan pemikirannya mengenai topik tersebut.

Jelaslah, kemungkinan konflik jauh lebih mungkin terjadi pada tingkat ini dibanding sebelumnya. Biasanya ketika orang berbicara pada tingkat ini, mereka mengantisipasi respons dari pasangannya. Jika pasangannya menjawab secara positif, mereka terus berbicara dan saling bertanya. Namun, jika sebaliknya yang dinyatakan dengan kata-kata atau ekspresi wajah (kerutan dahi, alis terangkat, mata terpicing, menguap), maka ia dengan cepat mengakhiri percakapan dan mundur ke topik yang lebih aman. Beberapa pasangan menghabiskan sedikit waktu pada tingkat 3 karena mereka tidak suka gagasan mereka ditantang atau dipertanyakan. Secara emosional, mereka terancam; jadi mereka mundur ke tingkat 1 atau 2 dan mungkin tidak pernah melangkah ke tingkat 4.

Kebutuhan akan pertumbuhan komunikasi memberi kebebasan satu sama lain untuk berpikir secara berbeda. Perbedaan seperti ini tidak perlu mempengaruhi keintiman mereka. Namun, ketika yang seorang berusaha memaksa yang lain untuk setuju dengan pendapatnya, maka keintiman menguap dan pertengkaran atau keheningan terjadi.

 

Tingkat 4: Pembicaraan Emosional

“Izinkan aku mengatakan perasaanku kepadamu.”

Pada tingkat 4 kita berbagi emosi dan perasaan kita mengenai segala sesuatu. “Aku merasa terluka, kecewa, marah, gembira, sedih, bersemangat, bosan, tidak dikasihi, romantik, atau kesepian.” Ini adalah jenis kata perasaan yang kita pakai pada tingkat ini.

Jarak antara tingkat 3 dan 4 mungkin merupakan sebuah langkah raksasa. Kita menanggung risiko jauh lebih besar ketika berkomunikasi pada tingkat ini, tetapi kita juga mempunyai potensi untuk masuk ke tingkat keintiman yang lebih tinggi. Kita semua individu yang unik. Ketika kita berbagi perasaan, kita berbagi diri kita. Jadi, dalam sebuah pernikahan, ketika kita berkomunikasi pada tingkat ini, ktia mempunyai potensi meningkatkan keintiman pernikahan.

Beberapa pasangan jarang berkomunikasi pada tingkat ini karena mereka takut emosi mereka tidak akan diterima. Ketika kita menindas perasaan kita, pasangan kita dibiarkan untuk membayangkan apa yang sedang berlangsung di dalam diri kita. Pasangan sering kali keliru menilai pasangannya sehingga kesalahpahaman terjadi.

Untuk merangsang komunikasi, kita harus mulai menerima fakta bahwa kita akan merasa secara berbeda, bahkan mengenai hal yang sama. Kita harus saling memberi kebebasan untuk merasa berbeda dan mendengarkan secara simpatik ketika pasangan mengungkapkan perasaannya. Jika kita dapat mengembangkan iklim penerimaan ini, kita akan menghabiskan semakin banyak waktu pada tingkat komunikasi yang lebih tinggi dan keintiman kita akan meningkat.

 

Tingkat 5: Pembicaraan Kebenaran yang Tulus dan Penuh Kasih

“Mari kita jujur.”

Pada tingkat ini, kita berada di puncak komunikasi. Ini adalah tempat kita dapat membangun pernikahan yang sehat dengan tingkat keintiman yang lebih tinggi. Tingkat ini memungkinkan membicarakan kebenaran dalam kasih. Di sinilah kita jujur, tetapi tidak menyalahkan, terbuka, tetapi tidak menuntut. Ini memberi setiap kita kebebasan untuk berpikir secara berbeda dan merasa secara berbeda. Daripada saling menyalahkan, kita berusaha mengerti gagasan dan perasaan pasangan kita, mencari jalan untuk tumbuh bersama walaupun ada perbedaan di antara kita.

Jika ini terdengar mudah, yakinlah bahwa kenyataannya tidak demikian. Jika ini terdengar mustahil, yakinlah bahwa tidak demikian halnya. Semakin banyak pasangan yang menemukan bahwa dengan pertolongan Tuhan, komunikasi terbuka yang penuh kasih jenis ini menghasilkan pengertian yang mendalam akan kesatuan dan keintiman di dalam pernikahan mereka. Apa yang diperlukan adalah sikap menerima.

“Apakah memang perlu untuk berbagi satu sama lain semua pikiran dan semua perasaan kita?” Jawabannya adalah tidak. Beberapa tahun yang lalu ada penekanan pada keterbukaan dan kejujuran, di mana pasangan didorong untuk berbagi semua pikiran dan perasaan dengan ide bahwa mereka akan menjadi lebih intim. Aliran pikiran itu hanya bertahan sebentar. Banyak pernikahan hancur oleh filosofi seperti ini.

Kenyataannya adalah kita semua kadang-kadang memiliki pikiran dan perasaan yang liar dan gila atau begitu negatif sehingga tidak layak dibagikan. Pikiran seperti itu hanya boleh dibagikan kepada Tuhan (2 Korintus 10:5) dan melangkah maju untuk  menghadapi hidup secara positif dengan tuntutan Tuhan.

♠♠♠

Mengembangkan kesadaran akan lima tingkat komunikasi membuka potensi untuk menolong kita meningkatkan kualitas komunikasi kita. Ketika Anda menghabiskan lebih banyak waktu pada tingkat yang lebih tinggi, Anda pun akan mengalami keintiman yang lebih besar.

 

(Sumber: “Now You’re Speaking My Language” tulisan Gary Chapman. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

 

Bagaimana dan Kapan Membahas Seks dan Seksualitas dengan Anak-Anak Anda

Mendiskusikan kata “S” dapat menimbulkan kepanikan bahkan bagi orangtua yang paling percaya diri sekalipun. Apa yang Anda bagikan, dan kapan… dan bagaimana?

Beberapa orangtua membicarakan seks dan seksualitas terlalu dini, yang lainnya menunggu terlalu lama. Mereka hanya berharap kepada situasi dan munculnya kesempatan untuk membicarakannya. Walaupun demikian, alangkah lebih baik mempunyai panduan dan tujuan yang telah dipikirkan sebelumnya. Juga penting untuk diingat topik yang tepat sesuai dengan perkembangan usia.

 

Membuat Sebuah Perencanaan dan Tujuan

  1. Carilah nasihat para orangtua yang telah menolong anak-anak mereka mengembangkan sikap hidup sehat terhadap kehidupan seksual mereka.
  2. “Melahap” habis buku-buku yang sangat bagus tentang subjek-subjek tersebut
  3. Membuat sebuah daftar berisi topik-topik yang dirasa perlu dibahas dan mulai menempatkan topik-topik tersebut dalam kategori perkembangan yang sesuai.
  4. Kira-kira setiap enam bulan sekali, mengambil waktu untuk mengevaluasi apa yang dirasa perlu didiskusikan dengan anak-anak.

Membangun fondasi

Tentu saja, mengajarkan anak-anak seksualitas yang sehat tidak hanya sekedar menyampaikan informasi, tetapi lebih kepada mendorong hubungan dan sikap yang sehat, dan meletakkan fondasi untuk “teologi seksualitas” yang sehat, seumur hidup.

Kita sebagai orangtua ingin anak-anak mengetahui bahwa Allah menciptakan seksualitas, dan dalam konteks pernikahan, Dia melihatnya sangat baik. Kita ingin anak-anak kita memiliki sikap dan perilaku yang menghormati Allah dalam masalah seksualitas manusia. Sebagai orangtua, kita harus menyiapkan tokoh panutan bagi anak-anak kita sementara kita memperkenalkan topik-topik penting ini kepada mereka.

Kita seharusnya memulai perbincangan ketika anak-anak kita masih sangat muda dan melanjutkannya sampai mereka dewasa. Semakin alami dan berlangsung terus-menerus percakapan tersebut, semakin mudah bagi Anda sebagai orangtua dan bagi anak-anak Anda untuk memiliki perilaku yang sehat terhadap seks dan hubungan relasi.

 

Topik-topik yang Sesuai Umur

Cara yang paling efektif dalam mengajarkan seksualitas yang sehat adalah sedapat mungkin memanfaatkan momen spontan yang datang daripada berbincang secara lebih formal. Gunakan situasi keseharian dan pengalaman hidup sehingga pesan Anda mudah diterima.

Allah menciptakan anak laki-laki dan anak perempuan (usia 3-5 tahun)

Tema penting yang diusung untuk tahapan usia ini adalah fondasi dasar bahwa Allah menciptakan kita (laki-laki dan perempuan) dan tubuh kita (setiap bagiannya). Dia mencintai dan menginginkan kita menghormati-Nya dengan tubuh kita. Perkenalkan perbedaan antara laki-laki dan perempuan, serta bahas masalah keselamatan pribadi dan sentuhan apa yang pantas dan tidak pantas dari orang yang tidak dikenal, baby sitter, atau bahkan anggota keluarga sekalipun. Diskusi ini harus nyaman dan sering dilakukan.

waktu keingintahuan muncul (usia 6-9 tahun)

Tingkat ini merupakan perkembangan dimana anak-anak sangat ingin tahu. Pada tingkat ini Anda mulai memperkenalkan dasar seksualitas. Anda ingin menjawab pertanyaan, “Dari mana datangnya bayi?” Dengan pemahaman akan keingintahuan mereka, kita perlu memperkenalkan anatomi tubuh manusia yang paling dasar dan bagaimana Allah menjadi bagian dari setiap keluarga, mulai dari pembuahan sampai kepada kematian.

menjaga dirimu sendiri kudus (usia 10-13 tahun) — the purity code

Salah satu pesan penting pada tahap perkembangan ini adalah fakta bahwa tubuh kita adalah hadiah dari Allah dan bahwa kita dapat menjalankan Prinsip Kekudusan. Pubertas terjadi pada tahap ini. Ini adalah tahap utama untuk memperkenalkan bahwa seksualitas adalah hadiah dari Allah dan digunakan dalam ketaatan kepada-Nya. Pada akhir tahap ini, hampir semua perlu dibahas — dari hubungan laki-laki/perempuan sampai kepada pornografi di internet, pengaruh budaya, tekanan dari teman sebaya, kesopanan, bercumbu, juga anugrah serta pengampunan.

yang terbaik dari allah untuk tubuh, pikiran, dan hatimu (usia 14-18 tahun)

Pada tahap ini pekerjaan Anda belum selesai. Percakapan dan instruksi dari orangtua perlu dilakukan mengenai topik-topik berkencan, penetapan standar, kekerasan seksual, seberapa jauhkan terlalu jauh itu, belajar untuk secara radikal menghormati lawan jenis, narkoba, alkohol serta seks, berpesta, dan keputusan untuk berintegritas secara seksual. Pada tahap ini, tidak boleh ada percakapan yang ditangguhkan oleh orangtua. Anak-anak sangat rentan dan sedang melewati tahap coba-coba. Percakapan dengan moral yang jujur dan tanpa malu-malu bersama anak-anak Anda akan membuat mereka lebih mudah dalam mengendalikan seksualitas mereka pada tahap yang penting ini. Jikalau orangtua mengkuliahi atau mengkritik, akan memadamkan semangat mereka untuk berdiskusi. Bersikaplah terbuka dan perlihatkan kepedulian yang tulus agar mereka terus terbuka untuk berdiskusi.

 

Ritual Tonggak Bersejarah

Fakta yang tidak boleh dilewatkan pada diskusi pengajaran ini adalah peristiwa dimana tubuh anak-anak kita sedang berkembang dan berubah. Peristiwa penting dalam kehidupan ini perlu dirayakan.

Pengalaman ritual tonggak bersejarah, baik itu formal maupun tidak, adalah tonggak bagi anak-anak Anda untuk mengingat sebuah waktu ketika Anda menghargai dan memberkati perkembangan mereka. Hal tersebut menjadi cara yang indah bagi orangtua dalam membangun relasi dengan anak-anak mereka. Hubungan atau relasi adalah kata kuncinya. Anak-anak mendambakan relasi dengan orangtuanya.

pubertas

Usia sekitar 10,5 sampai 13 tahun adalah saat penting untuk mendiskusikan rincian dari pubertas. Berbincanglah dengan anak Anda sebelum dan sementara perubahan-perubahan tersebut berlangsung. Pastikan Anda tidak lupa untuk mendiskusikan topik-topik dan fakta-fakta yang sering tidak nyaman untuk diperbincangkan, karena jika Anda tidak melakukannya, siapa lagi yang akan melakukannya dengan cara yang Anda sukai?

 

Dalam menentukan bagaimana, kapan, dan dimana dalam mendiskusikan masalah seksual dengan anak-anak kita, ingatlah bahwa setiap anak berbeda, bahkan dalam kelompok usia yang sama sekalipun.

 

(Sumber: “Teaching Your Children Healthy Sexuality” tulisan Jim Burns. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Ketrampilan Seorang Pemimpin

Sikap seorang pemimpin yang baik membuat para pengikutnya dapat memercayakan diri mereka padanya. Namun seorang pemimpin perlu membuat gerak dan perubahan nyata. Karena itu, selain memiliki sikap yang tepat, ia juga membutuhkan sejumlah ketrampilan atau skill kepemimpinan.

Ketrampilan adalah kemampuan mengubah sesuatu yang ada menjadi apa yang dikehendaki sesuai dengan rencana.

Ketrampilan menyangkut pengenalan “bahan”, input, atau apa yang dapat diolah. Ketrampilan juga terkait dengan tahap-tahap pelaksanaan, pengolahan, serta bobot atau jumlah energi yang dibutuhkan, bahkan kemungkinan-kemungkinan penyimpangan dan pengecualian. Dalam bahasa Inggris, ketrampilan berkaitan dengan “make things happen”.

Ketrampilan dapat juga disebut sebagai suatu daya transformasi yang memungkinkan seorang pemimpin menjadikan apa yang tersedia menjadi sesuatu yang bermanfaat, baik untuk dirinya maupun untuk orang lain.

Salahs atu ketrampilan yang paling mendasar untuk dapat memimpin dalam dunia modern adalah ketrampilan untuk mengelola hubungan dengan baik. Untuk komunitas Asia, di mana kompleksitas organisasi dan hubungan antara manusia cukup tinggi, sangat dibutuhkan ketrampilan kepemimpinan yang menghasilkan hubungan baik.

 

Untuk mendukung hal tersebut, dibutuhkan ketrampilan lain seperti berikut:

  1. Ketrampilan berkomunikasi secara interpersonal, antara lain untuk mencari data,
  2. Menciptakan sinergi dalam lingkup kerja dengan menggalang tim yang mampu bekerja sama (bukan sekedar sama-sama bekerja).
  3. Mengambil keputusan secara runtut dan logis.
  4. Mencari alternatif dan mampu berpikir dalam paradigma yang lebih luas

 

Bila ketrampilan kepemimpinan yang dimiliki seseorang seiring dengan sikap yang seharusnya, maka seorang pemimpin tidak hanya akan semakin andal dan terampil, tetapi juga lebih bijaksana.

 

(Dikutip dari buku “Bahan Bakar Sang Pemimpin” tulisan Robby Chandra. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)

Tiga Pilar Pencapai Sukses

Orangtua yang ingin anak-anaknya mencapai sesuatu yang disebut “keberhasilan” mungkin merasa bahwa tujuan ini bertentangan dengan hasrat mereka supaya anak-anak mereka juga menjadi bahagia. Mencapai keberhasilan, seperti yang sering diartikan oleh masyarakat kita, menekankan kekayaan serta status sosial, dan sering bertentangan dengan mengalami kepuasan, kesenangan, dan kebahagiaan.

Bimbing dan besarkan anak Anda untuk menjadi pencapai sukses. Bagi pencapai sukses, keberhasilan dan kebahagiaan merupakan hal yang sama.

Keberhasilan tanpa kebahagiaan sama sekali bukan keberhasilan.

Konsep pencapai sukses juga menyatakan bahwa bagian penting dari keberhasilan dan kebahagiaan adalah internalisasi nilai-nilai universal — rasa hormat, tenggang rasa, kebaikan, kemurahan hati, keadilan, altruisme, integritas, kejujuran, saling ketergantungan, dan bela rasa — oleh anak-anak. Anak-anak tidak bisa menjadi pencapai sukses juga mereka tidak menjalani dan berpegang pada nilai-nilai penting yang memperkaya hidup ini.

Perkembangan pencapai sukses merupakan hasil pengelolaan Tiga Pilar Pencapai Sukses.

 

Pilar Pertama: Harga Diri

Anak Anda akan mengembangkan harga diriyang tinggi dengan menerima cinta, dorongan, dan dukungan yang tepat. Tapi, anak Anda juga akan memperoleh harga diri yang besar dari rasa mampu yang ia kembangkan dari peluang yang Anda berikan kepadanya untuk mempelajari dan menggunakan berbagai ketrampilan dalam upaya mencapai sesuatu. Harga diri yang tinggi juga berperan sebagai landasan bagi kedua pilar lain yang membentuk inti pencapai sukses.

 

Pilar kedua: Kepemilikan

Anak-anak perlu memperoleh rasa kepemilikan atas minat, upaya, dan prestasi dalam hidup mereka. Kepemilikan ini berarti mereka terlibat dalam sebuah kegiatan karena kecintaan mereka pada kegiatan itu dan kerena tekad mereka sendiri untuk melakukan yang terbaik. Kepemilikan ini juga memberi mereka rasa syukur dan sukacita yang sangat besar yang semakin memotivasi mereka untuk berupaya mencapai prestasi yang lebih tinggi.

 

Pilar Ketiga: Penguasaan Emosi

Orangtua yang melindungi anak-anak dari emosi mereka sebenarnya mengganggu pertumbuhan emosi anak-anak mereka. Hanya dengan diperbolehkan mengalami berbagai emosilah maka anak-anak jadi bisa mengetahui emosi apa yang sedang mereka rasakan, apa arti emosi itu bagi mereka, dan bagaimana cara mereka bisa mengelolanya dengan efektif. Beri anak Anda peluang untuk mengalami emosi secara penuh (positif maupun negatif) dan beri mereka bimbingan untuk memahami dan menguasai kehidupan emosional mereka.

Anak-anak yang tidak berkembang secara emosional masih bisa meraih sukses, tapi mereka sering merasa tidak puas dan tidak bahagia dalam keberhasilan mereka. Penguasaan emosi tidak hanya membuat anak-anak bisa meraih sukses, tapi juga membuat mereka bisa menemukan kepuasan dan sukacita dalam upaya-upaya mereka.

 

(Diambil dari buku “Memberi Dorongan Positif pada Anak agar Anak Berhasil dalam Hidup” oleh Jim Taylor, Ph.D. Buku tersedia di Bibliotherapy PKPP)